TERKINI
Bagian 2 - Selesai

Membaca Kemarau dari Kampung, Mencegah Asap Sebelum Datang

Membaca Kemarau dari Kampung, Mencegah Asap Sebelum Datang
LINGKUNGAN
Dok Kementerian Kehutanan
Paulinus Kristianto

GARISBUMI.com – Bagi Paulinus Kristianto, kemarau bukan sekadar pergantian musim. Sebagai orang Dayak, ia mengenalnya sebagai bagian dari kehidupan masyarakat yang tumbuh bersama hutan Kalimantan. Namun, ketika musim kering datang, ada kekhawatiran yang berulang: api dan asap kembali mengancam ruang hidup mereka.

Lelaki yang akrab disapa Linus itu merupakan pendiri Conservation Action Network (CAN) Borneo sekaligus relawan konservasi satwa dan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla. Pengalamannya di lapangan membuatnya terus mengajukan pertanyaan: mengapa kebakaran berulang, sementara ancaman kemarau sudah dikenali?

“Sebagai orang Dayak, saya mengenal siklus kebakaran tahunan,” ujar Linus, Rabu (21/10/2026), sebagaimana disampaikan Kementerian Kehutanan.

Dalam pengamatannya, masyarakat mengenali kemarau yang singkat maupun musim kering yang berlangsung lebih panjang. Pengetahuan tentang perubahan musim itu, menurutnya, semestinya menjadi bekal untuk bersiap sebelum kebakaran terjadi.

Namun, mengenali kemarau saja belum cukup. Linus menilai kondisi lahan ikut menentukan seberapa besar ancaman yang harus dihadapi ketika hujan tak kunjung turun.

Ia menyoroti gambut yang telah dikeringkan, semak belukar, serta hutan sekunder muda. Berdasarkan pengamatannya terhadap citra satelit, sejumlah lokasi kebakaran kembali muncul di kawasan yang sama.

“Gambutnya dikeringkan waktu itu, sehingga setiap kali siklus kemarau datang, api kembali muncul di lokasi yang sama,” tuturnya.

Pandangan tersebut menempatkan karhutla sebagai persoalan yang melampaui urusan pemadaman. Menurut Linus, pengelolaan lahan pada masa lalu meninggalkan kerentanan yang terus terasa ketika kemarau datang.

Karena itu, ia mendorong penyekatan kanal pengeringan untuk membantu menjaga gambut tetap basah, serta penghentian pemberian izin baru perkebunan kelapa sawit di ekosistem gambut. Baginya, pemulihan lahan perlu berjalan bersama kesiapan menghadapi kebakaran.

Di tingkat desa, masyarakat harus dilibatkan secara aktif. Perusahaan perlu menjalankan standar operasional prosedur, sementara pemerintah pusat memastikan upaya pencegahan dan penanganan berjalan bersama.

“Permasalahan terbesar dari kebakaran ini adalah mitigasi bencananya,” kata Linus.

Pelibatan warga menjadi penting karena merekalah yang hidup paling dekat dengan lahan dan menghadapi akibat ketika api membesar. Pengetahuan mereka tentang musim membutuhkan dukungan peralatan, koordinasi, dan tindakan pencegahan yang nyata.

Linus mengingatkan, tanpa kerja bersama, kemarau panjang hanya akan membawa masyarakat pada pengalaman pahit yang kembali berulang.

“Kebakaran ini akan terus terulang seperti nostalgia setiap kali kemarau panjang tiba. Pertanyaannya, apakah kita mau belajar dari semua itu?”

Dari kampung dan pengalamannya menjaga hutan, Linus menyampaikan pesan sederhana: kemampuan membaca tanda alam seharusnya diikuti kesediaan bertindak. Sebelum tanda datangnya kemarau berubah menjadi kepulan asap.

Siaran Pers Resmi Kementerian Kehutanan

Artikel ini merupakan siaran pers resmi yang diterbitkan melalui Meja Redaksi GARIS BUMI. Materi telah melalui peninjauan editorial untuk kenyamanan dan kejelasan informasi bagi pembaca.

Alur Baca Berita Menampilkan Semua Halaman (2 Bagian)
Mode Halaman
Sebelumnya
1 2
Selanjutnya

Bagaimana menurut Anda tentang liputan ini?

Beri reaksi pembaca untuk mengapresiasi karya jurnalistik ini:
ARTIKEL SEBELUMNYA Linus, Menjaga Hutan Setelah Kehilangan Rumah dan Kakek ARTIKEL BERIKUTNYA Menjaga Air dari Hulu ke Laut, Warga Perlu Dilibatkan Sejak Perencanaan
Diskusi & Komentar Pembaca (0)

Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi

Tanggapan akan disaring dan diverifikasi redaksi terlebih dahulu sebelum terbit.
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Berita Terkait Lainnya

Lihat Semua di Rubrik LINGKUNGAN
1 bulan yang lalu
1 bulan yang lalu
1 bulan yang lalu