Membaca Kemarau dari Kampung, Mencegah Asap Sebelum Datang
Pandangan tersebut menempatkan karhutla sebagai persoalan yang melampaui urusan pemadaman. Menurut Linus, pengelolaan lahan pada masa lalu meninggalkan kerentanan yang terus terasa ketika kemarau datang.
Karena itu, ia mendorong penyekatan kanal pengeringan untuk membantu menjaga gambut tetap basah, serta penghentian pemberian izin baru perkebunan kelapa sawit di ekosistem gambut. Baginya, pemulihan lahan perlu berjalan bersama kesiapan menghadapi kebakaran.
Di tingkat desa, masyarakat harus dilibatkan secara aktif. Perusahaan perlu menjalankan standar operasional prosedur, sementara pemerintah pusat memastikan upaya pencegahan dan penanganan berjalan bersama.
“Permasalahan terbesar dari kebakaran ini adalah mitigasi bencananya,” kata Linus.
Pelibatan warga menjadi penting karena merekalah yang hidup paling dekat dengan lahan dan menghadapi akibat ketika api membesar. Pengetahuan mereka tentang musim membutuhkan dukungan peralatan, koordinasi, dan tindakan pencegahan yang nyata.
Linus mengingatkan, tanpa kerja bersama, kemarau panjang hanya akan membawa masyarakat pada pengalaman pahit yang kembali berulang.
“Kebakaran ini akan terus terulang seperti nostalgia setiap kali kemarau panjang tiba. Pertanyaannya, apakah kita mau belajar dari semua itu?”
Dari kampung dan pengalamannya menjaga hutan, Linus menyampaikan pesan sederhana: kemampuan membaca tanda alam seharusnya diikuti kesediaan bertindak. Sebelum tanda datangnya kemarau berubah menjadi kepulan asap.
Artikel ini merupakan siaran pers resmi yang diterbitkan melalui Meja Redaksi GARIS BUMI. Materi telah melalui peninjauan editorial untuk kenyamanan dan kejelasan informasi bagi pembaca.
Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi