TERKINI

Ketika Hutan Terbakar, Yeye Menghadapi Api dan Keluhan Warga

Ketika Hutan Terbakar, Yeye Menghadapi Api dan Keluhan Warga
LINGKUNGAN
Kementerian Kehutanan
Petugas BKSDA Kalimantan Barat berupaya memadamkan api di kawasan hutan

GARISBUMI.com – Karhutla membuat orangutan kehilangan sumber pakan dan masuk ke kebun warga. Di tengah keterbatasan pemadaman, petugas juga harus mencegah konflik manusia dan satwa meluas.

Kabar dari rumah itu datang ketika Mohamad Sahir masih harus bertahan dalam penugasan penanganan kebakaran hutan dan lahan. Istri dan anaknya di Pontianak jatuh sakit akibat kabut asap, sebagaimana dituturkan dalam keterangan Kementerian Kehutanan.

Sahir, yang akrab disapa Yeye, menghadapi asap yang sama dalam pekerjaannya. Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama pada Resor BKSDA Sukadana dan Karimata itu harus berjalan berkilo-kilometer menuju titik kebakaran, menghadapi keterbatasan air, dan sesekali bermalam di hutan.

Di luar urusan pemadaman, ada persoalan lain yang menunggunya: orangutan yang kehilangan sumber makanan serta warga yang tanaman kebunnya dimakan satwa tersebut.

Bagi Yeye, 42 tahun, rangkaian persoalan itu menjadikan kemarau Agustus hingga Oktober 2026 sebagai periode penugasan terberat. Selama dua bulan, ia bersama personel lainnya difokuskan menangani karhutla di wilayah Resor Kendawangan dan Pembedilan.

Api merusak habitat. Dampaknya kemudian menjalar ke kebun warga, hubungan manusia dengan satwa, hingga kesehatan keluarga petugas.

Orangutan keluar, warga kehilangan tanaman

Menurut keterangan Kementerian Kehutanan, petugas BKSDA bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) berhasil mengevakuasi 51 individu orangutan yang terdampak kebakaran.

Penyelamatan itu berlangsung di tengah situasi yang juga menyulitkan masyarakat. Kehilangan sumber pakan di hutan membuat orangutan keluar menuju perkebunan warga. Satwa tersebut memakan dan merusak tanaman muda, memicu kepanikan serta kemarahan pemilik kebun.

Yeye mengatakan, petugas menerima banyak aduan mengenai orangutan yang mendekati permukiman dan memakan tanaman warga setelah habitatnya terdampak karhutla.

“Luar biasa ini dampaknya bukan hanya kepada hutan dan satwa tapi masyarakat juga kena dampak,” kata Yeye, sebagaimana dikutip dalam keterangan Kementerian Kehutanan.

Dalam situasi seperti itu, evakuasi satwa dan komunikasi dengan warga menjadi pekerjaan yang saling berkaitan. Yeye dan rekan-rekannya harus mendengarkan keluhan, menghadapi kemarahan, serta menjelaskan keadaan yang membuat orangutan keluar dari habitatnya.

Warga menghadapi kerusakan tanaman. Orangutan berusaha mendapatkan makanan. Petugas berada di antara keduanya, berupaya menyelamatkan satwa sekaligus mencegah konflik meluas.

Memadamkan api dengan air terbatas

Untuk mencapai titik kebakaran, perjalanan harus ditempuh dengan berjalan kaki menembus kawasan hutan. Jaraknya dapat mencapai berkilo-kilometer.

Sesampainya di lokasi, air belum tentu tersedia. Dalam kondisi terbatas itu, petugas melakukan pemadaman secara manual menggunakan ranting pohon. Angin kencang menjadi tantangan berikutnya karena bara dapat kembali menyala dan memperpanjang pekerjaan.

Penugasan juga dapat mengharuskan mereka bermalam di hutan dengan persediaan air minum terbatas. Sementara itu, paparan asap dan aktivitas fisik berat mulai terasa pada tubuh.

“Selama proses pemadaman juga kita kena gangguan kesehatan, sesak nafas, kadang tenggorokan kering,” ungkap Yeye.

Menurut dia, petugas diberi waktu beristirahat setelah lima hari bertugas. Pergiliran itu memberi kesempatan bagi mereka untuk memulihkan kondisi sebelum kembali menghadapi pekerjaan di lapangan.

Asap yang sampai ke rumah

Dalam keadaan biasa, Yeye dapat pulang menemui keluarganya di Pontianak sebulan sekali. Namun, siaga karhutla membuatnya harus lebih lama berada di posko penugasan.

Jarak terasa semakin berat ketika ia mengetahui istri dan anaknya turut sakit akibat kabut asap. Telepon menjadi penghubung dengan keluarga sekaligus penguat untuk melanjutkan tugas.

Pengalaman Yeye memperlihatkan betapa luas dampak kebakaran hutan dan lahan. Di lokasi kebakaran, petugas menghadapi api dan gangguan pernapasan. Di sekitar hutan, warga menghadapi kerusakan tanaman dan kemunculan satwa. Di rumah, keluarga mereka pun dapat ikut menghirup asap.

“Kita berharap cepat hujan supaya kebakaran ini cepat berakhir,” harap Yeye.

Harapan itu menyatukan berbagai kebutuhan: petugas yang memerlukan jeda, warga yang ingin kebunnya aman, dan keluarga yang menunggu udara kembali bersih. Adapun bagi orangutan yang telah dievakuasi, selamat dari api baru menjawab satu persoalan. Sumber pakan dan habitatnya tetap menjadi bagian dari cerita kebakaran yang belum selesai.

Siaran Pers Resmi Kementerian Kehutanan

Artikel ini merupakan siaran pers resmi yang diterbitkan melalui Meja Redaksi GARIS BUMI. Materi telah melalui peninjauan editorial untuk kenyamanan dan kejelasan informasi bagi pembaca.

Alur Baca Berita Menampilkan Semua Halaman (4 Bagian)
Mode Halaman
Sebelumnya
1 2 3 4
Selanjutnya

Bagaimana menurut Anda tentang liputan ini?

Beri reaksi pembaca untuk mengapresiasi karya jurnalistik ini:
ARTIKEL SEBELUMNYA Polresta Serang Kota Dorong Lahan Kosong Jadi Ruang Hijau lewat Penanaman Pohon ARTIKEL BERIKUTNYA Ketapang Catat 37 dari 39 Titik Panas Kalbar, Tambahan Personel Disiapkan
Diskusi & Komentar Pembaca (0)

Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi

Tanggapan akan disaring dan diverifikasi redaksi terlebih dahulu sebelum terbit.
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Berita Terkait Lainnya

Lihat Semua di Rubrik LINGKUNGAN
1 bulan yang lalu
1 bulan yang lalu
1 bulan yang lalu