Subulussalam Prioritaskan Pemulihan Sungai dan Pengendalian Ekspansi Sawit
SUBULUSSALAM, GARISBUMI.com – Pemulihan daerah tangkapan air, fungsi sungai, dan sempadan sungai menjadi prioritas dalam penyusunan arah perlindungan lingkungan Kota Subulussalam, Aceh, untuk 30 tahun ke depan. Pengendalian ekspansi perkebunan kelapa sawit juga masuk dalam pembahasan untuk memperkuat ketahanan wilayah terhadap bencana.
Prioritas tersebut dibahas dalam Konsultasi Publik Materi Teknis Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) yang diselenggarakan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) bersama Pemerintah Kota Subulussalam, Rabu (21/10/2026).
Penyusunan dokumen ini berlangsung dalam konteks pemulihan jangka panjang setelah bencana hidrometeorologi melanda Aceh pada akhir 2025. Perencanaan lingkungan diharapkan memastikan pembangunan berikutnya memperhitungkan kemampuan lingkungan menopang kegiatan manusia serta potensi risiko bencana.
Sumber air dan keselamatan warga
Sekretaris Daerah Kota Subulussalam, Asrul Assani, mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur harus berjalan bersama perlindungan sumber air dan hutan.
“Apa artinya pembangunan yang megah jika lingkungan rusak? Apa artinya pertumbuhan ekonomi jika sumber air tercemar, hutan kehilangan fungsinya, dan risiko bencana semakin meningkat,” kata Asrul, sebagaimana dikutip dalam keterangan KLH/BPLH.
Pembahasan menyoroti keterkaitan Kota Subulussalam dengan Ekosistem Leuser, Tahura Lae Kombih, serta jaringan daerah aliran sungai yang menopang kehidupan masyarakat.
Artikel ini merupakan siaran pers resmi yang diterbitkan melalui Meja Redaksi GARIS BUMI. Materi telah melalui peninjauan editorial untuk kenyamanan dan kejelasan informasi bagi pembaca.
Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi