Ketika Hutan Terbakar, Yeye Menghadapi Api dan Keluhan Warga
Memadamkan api dengan air terbatas
Untuk mencapai titik kebakaran, perjalanan harus ditempuh dengan berjalan kaki menembus kawasan hutan. Jaraknya dapat mencapai berkilo-kilometer.
Sesampainya di lokasi, air belum tentu tersedia. Dalam kondisi terbatas itu, petugas melakukan pemadaman secara manual menggunakan ranting pohon. Angin kencang menjadi tantangan berikutnya karena bara dapat kembali menyala dan memperpanjang pekerjaan.
Penugasan juga dapat mengharuskan mereka bermalam di hutan dengan persediaan air minum terbatas. Sementara itu, paparan asap dan aktivitas fisik berat mulai terasa pada tubuh.
“Selama proses pemadaman juga kita kena gangguan kesehatan, sesak nafas, kadang tenggorokan kering,” ungkap Yeye.
Menurut dia, petugas diberi waktu beristirahat setelah lima hari bertugas. Pergiliran itu memberi kesempatan bagi mereka untuk memulihkan kondisi sebelum kembali menghadapi pekerjaan di lapangan.
Asap yang sampai ke rumah
Dalam keadaan biasa, Yeye dapat pulang menemui keluarganya di Pontianak sebulan sekali. Namun, siaga karhutla membuatnya harus lebih lama berada di posko penugasan.
Jarak terasa semakin berat ketika ia mengetahui istri dan anaknya turut sakit akibat kabut asap. Telepon menjadi penghubung dengan keluarga sekaligus penguat untuk melanjutkan tugas.
Artikel ini merupakan siaran pers resmi yang diterbitkan melalui Meja Redaksi GARIS BUMI. Materi telah melalui peninjauan editorial untuk kenyamanan dan kejelasan informasi bagi pembaca.
Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi