Hotspot Nasional Turun 40 Persen, Kalimantan Tengah Masih Menyimpan Risiko Karhutla
GARISBUMI.com – Hotspot di Kalimantan Tengah naik dari 12 menjadi 15 titik. Penanganan kebakaran belum selesai setelah nyala api hilang, terutama pada lahan gambut dan kawasan yang rentan dimanfaatkan secara ilegal.
Penurunan jumlah hotspot nasional belum menjadi alasan untuk mengendurkan pengendalian kebakaran hutan dan lahan atau karhutla. Ketika angka nasional turun 40 persen, hotspot di Kalimantan Tengah justru meningkat. Pemerintah juga masih harus memastikan kawasan bekas kebakaran terlindungi dari aktivitas ilegal.
Berdasarkan pemantauan SiPongi Kementerian Kehutanan hingga Sabtu, 31 Oktober 2026 pukul 21.00 WIB, terdeteksi 96 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence di Indonesia. Jumlah itu berkurang 64 titik dari 160 titik sehari sebelumnya.
Namun, Kalimantan Tengah mencatat kenaikan dari 12 menjadi 15 titik. Provinsi ini menyumbang 15 dari 19 hotspot yang terdeteksi di enam provinsi prioritas pengendalian karhutla.
Data tersebut memperlihatkan bahwa penurunan secara nasional tidak selalu diikuti perbaikan di setiap wilayah. Di Kalimantan Tengah, penanganan masih menghadapi risiko bara di bawah permukaan gambut sekaligus kebutuhan pengawasan kawasan pascakebakaran.
Hotspot bukan jumlah kejadian kebakaran
Menurut keterangan Kementerian Kehutanan tertanggal 1 November 2026, sebaran hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi di enam provinsi prioritas adalah sebagai berikut:
Artikel ini merupakan siaran pers resmi yang diterbitkan melalui Meja Redaksi GARIS BUMI. Materi telah melalui peninjauan editorial untuk kenyamanan dan kejelasan informasi bagi pembaca.
Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi