TERKINI

Anak Banteng Jawa Lahir di Pangandaran, Populasi Purbajapa Menjadi Tujuh Ekor

Anak Banteng Jawa Lahir di Pangandaran, Populasi Purbajapa Menjadi Tujuh Ekor
KONSERVASI
Kementerian Kehutanan
Anak banteng jawa bersama induknya di Pusat Reintroduksi Banteng Jawa Pangandaran (Purbajapa), Cagar Alam Pananjung Pangandaran, Jawa Barat

Untuk kelahiran terbaru, tim mencatat perkawinan Bindi dan Senta pada 5 Januari 2026. Pengamatan kebuntingan kemudian dilakukan secara berkala, dilanjutkan pemantauan intensif hingga anak banteng lahir.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Mahfudz mengapresiasi BBKSDA Jawa Barat dan para mitra atas kelahiran tersebut. Menurutnya, perkembangan ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam melindungi satwa liar asli Jawa.

Pengembangbiakan berlangsung dengan perawatan harian

Purbajapa menerapkan pengembangbiakan semi-alami di areal sekitar lima hektare. Sembilan petugas lapangan menangani perawatan satwa setiap hari.

Pekerjaan mereka mencakup pemberian pakan dan nutrisi tambahan, pemeriksaan kesehatan, pemantauan masa birahi, serta pemeliharaan kandang, padang gembala, dan pagar.

Dengan pola pengelolaan tersebut, kelahiran anak banteng menunjukkan keberhasilan perkembangbiakan dalam kondisi semi-alami yang masih mendapat dukungan perawatan. Perkembangan ini belum dengan sendirinya membuktikan terbentuknya populasi liar yang mampu bertahan secara mandiri.

Keterangan Kemenhut belum memuat penilaian daya dukung habitat, keragaman genetik populasi, maupun rencana pengelolaan lanjutan setelah jumlah individu bertambah.

Siaran Pers Resmi Kementerian Kehutanan.

Artikel ini merupakan siaran pers resmi yang diterbitkan melalui Meja Redaksi GARIS BUMI. Materi telah melalui peninjauan editorial untuk kenyamanan dan kejelasan informasi bagi pembaca.

Alur Baca Berita Halaman 2 dari 3
Lihat Semua Halaman
Sebelumnya
1 2 3
Selanjutnya

Bagaimana menurut Anda tentang liputan ini?

Beri reaksi pembaca untuk mengapresiasi karya jurnalistik ini:
ARTIKEL SEBELUMNYA BLUD Iklim Buka Peluang Pembiayaan Daerah, Hak Karbon Tak Otomatis Melekat ARTIKEL BERIKUTNYA Lebih dari 1.500 Hektare Sawah Hilang di Sayung, Pemulihan Mangrove Harus Menopang Warga
Diskusi & Komentar Pembaca (0)

Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi

Tanggapan akan disaring dan diverifikasi redaksi terlebih dahulu sebelum terbit.
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Berita Terkait Lainnya

Lihat Semua di Rubrik KONSERVASI
1 bulan yang lalu
2 bulan yang lalu
1 bulan yang lalu