Menjaga Air dari Hulu ke Laut, Warga Perlu Dilibatkan Sejak Perencanaan
Subak menjadi bahan pembelajaran
Dalam forum tersebut, Indonesia memperkenalkan sejumlah praktik yang menghubungkan pelestarian lingkungan dengan pengetahuan lokal dan penghidupan masyarakat.
Salah satunya adalah subak di Bali, yang memperlihatkan pengelolaan air melalui tata kelola bersama dan kearifan lokal. Pembelajaran lainnya mencakup pengembangan kawasan berbasis geopark, konservasi pesisir dan laut, serta penanganan sampah plastik yang berpotensi mencemari perairan.
Berbagai pengalaman itu menjadi bahan diskusi mengenai cara mengembangkan praktik lokal dan menyesuaikannya dengan kebutuhan wilayah lain.
Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan Internasional dan Diplomasi Lingkungan KLH/BPLH, Erik Teguh Primiantoro, menegaskan bahwa pertukaran pengetahuan perlu berlanjut menjadi tindakan yang dirasakan masyarakat.
“Implementasi menjadi kata kunci. Kita harus mampu menghasilkan aksi nyata di tingkat tapak, tidak hanya untuk menjawab aspek lingkungan dan sains, tetapi juga mendorong kegiatan ekonomi berbasis lingkungan,” tutur Erik.
Pendanaan perlu menopang keberlanjutan
Untuk mendukung pelaksanaan program, forum turut membahas blended finance atau pembiayaan campuran. Pendekatan ini membuka peluang pendanaan publik, dukungan lembaga internasional, dan keterlibatan sektor swasta untuk saling melengkapi.
Perwakilan United Nations Environment Programme (UNEP), Christine Haffner-Sifakis, menyoroti pembiayaan campuran dan pengelolaan pengetahuan sebagai aspek penting dalam memperkuat kerja sama.
Artikel ini merupakan siaran pers resmi yang diterbitkan melalui Meja Redaksi GARIS BUMI. Materi telah melalui peninjauan editorial untuk kenyamanan dan kejelasan informasi bagi pembaca.
Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi