Hotspot Turun Jadi 487 Titik, Kebakaran Gambut dan Kualitas Udara Masih Jadi Perhatian
Hotspot Bukan Jumlah Kejadian Kebakaran
Kementerian Kehutanan mengingatkan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20.
Satu kejadian kebakaran dapat menghasilkan beberapa deteksi hotspot. Karena itu, jumlah titik panas tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas lahan yang terbakar.
Pemeriksaan lapangan atau groundcheck tetap diperlukan untuk memastikan kondisi sebenarnya, termasuk keberadaan api dan sumber panas yang masih tersisa.
Pemadaman Berlanjut di Lahan Gambut
Di Sumatera Selatan, operasi darat berlangsung di sejumlah lokasi di Muara Enim, Ogan Komering Ilir, Banyuasin, dan Musi Banyuasin. Beberapa lokasi merupakan lahan gambut dengan api yang menjalar di bawah permukaan.
Di Ogan Komering Ilir, Manggala Agni bersama TNI, regu pemadam perusahaan, dan masyarakat membagi sektor pemadaman pada bagian depan serta sisi api. Tim juga membuat sekat untuk memutus penjalaran, di tengah tantangan asap tebal dan angin kencang yang berubah arah.
Di Kalimantan Tengah, penanganan berlanjut di Kotawaringin Barat, kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Sukamara, dan Barito Selatan. Sejumlah lokasi telah dipadamkan, tetapi kebakaran permukaan dan bawah permukaan masih ditemukan pada lokasi gambut lainnya.
Sementara itu, operasi di Kalimantan Selatan dilakukan antara lain di Suaka Margasatwa Pelaihari serta sejumlah lokasi di Tanah Laut dan Banjarbaru. Beberapa titik berhasil dikendalikan, tetapi pemantauan tetap berlangsung untuk mengantisipasi penyalaan kembali.
Artikel ini merupakan siaran pers resmi yang diterbitkan melalui Meja Redaksi GARIS BUMI. Materi telah melalui peninjauan editorial untuk kenyamanan dan kejelasan informasi bagi pembaca.
Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi