Ketika Papan Larangan Ikut Marah
GARISBUMI.com – Papan itu sudah lama berdiri. Catnya mengelupas. Tiangnya berkarat. Sebagian tulisannya tertutup daun merambat.
Kalau diperhatikan, pesannya masih bisa ditebak: DILARANG MEMBUANG SAMPAH DI SINI.
Di bawahnya, sampah terus bertambah.
Barangkali papan itu benda paling sabar di pinggir jalan. Setiap hari menyampaikan larangan yang sama, setiap hari pula menerima kiriman yang dilarangnya.
Kiriman datang bersama kesibukan pagi. Ada yang membawa kantong sampah dari rumah, sekalian berangkat kerja. Ada yang sekalian hendak membeli sayuran. Berhenti sebentar, menoleh, lalu melempar. Urusan rumah selesai sebelum urusan kantor dimulai.
Rumah bersih. Pinggir jalan mendapat tambahan pekerjaan.
Saya membayangkan, sebelum berangkat, kantong itu diikat cukup rapi agar isinya tidak tercecer di kendaraan. Tetapi setelah sampai di tempat pembuangan pilihan sendiri, nasib isinya diserahkan kepada siapa saja. Kepada hujan, angin, pengguna jalan, atau petugas yang kelak datang membersihkan. Yang penting sudah jauh dari rumah.
Ada pula yang membuang sampah dari balik kaca mobil. Kaca diturunkan sedikit, tangan keluar sebentar, bungkus makanan berpindah tempat. Setelah itu kaca ditutup lagi. Perjalanan dilanjutkan dalam kabin yang tetap nyaman.
Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi