Data Hutan Perlu Diperbarui agar Perlindungan dan Pemanfaatan Lahan Tepat Sasaran
Menjaga Karbon, Tata Air, dan Habitat
Dalam sambutan Direktur Jenderal Planologi Kehutanan yang dibacakan Benny Raharjo, perbedaan karakter bentang alam Kalimantan dan Sulawesi menjadi perhatian dalam penyusunan rencana.
Kalimantan memiliki hutan tropis, gambut, dan mangrove yang berperan dalam penyimpanan karbon, tata air, serta perlindungan keanekaragaman hayati. Sementara Sulawesi memiliki ekosistem pegunungan, keanekaragaman hayati endemik, serta daerah aliran sungai yang terhubung dengan pesisir.
RKTN memuat enam arahan pemanfaatan ruang, meliputi konservasi; perlindungan hutan alam, gambut, dan mangrove; rehabilitasi; pemanfaatan hutan berbasis korporasi; pemanfaatan berbasis masyarakat; serta kawasan untuk nonkehutanan.
Dalam sambutan tersebut ditegaskan bahwa pembagian ruang harus memastikan kawasan yang perlu dilindungi tetap terjaga, ekosistem terdegradasi dipulihkan, dan pemanfaatan hutan tetap memperhatikan fungsi ekologis.
Andi Winarno juga mendorong pembangunan kehutanan mendukung pengurangan emisi, peningkatan penyerapan karbon, dan penguatan ketahanan ekosistem, sejalan dengan agenda Indonesia’s FOLU Net Sink 2030.
Forum yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan itu melibatkan dinas lingkungan hidup dan kehutanan, Bappeda, akademisi, serta pengelola KPH. Peserta didorong mengidentifikasi kendala pelaksanaan dan merumuskan langkah yang dapat ditindaklanjuti di daerah.
Artikel ini merupakan siaran pers resmi yang diterbitkan melalui Meja Redaksi GARIS BUMI. Materi telah melalui peninjauan editorial untuk kenyamanan dan kejelasan informasi bagi pembaca.
Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi