Sinjai Minta Data Risiko Sanitasi Jadi Dasar Penentuan Wilayah dan Anggaran
Kajian tersebut mencakup pengelolaan air limbah domestik, sampah rumah tangga, kondisi sumber air, serta perilaku higiene dan sanitasi. Hasilnya menjadi dasar penyusunan prioritas program kesehatan lingkungan dan langkah pencegahan penyakit sesuai kebutuhan masyarakat.
Dalam konsultasi publik, Kahar mengajak peserta mencermati hasil studi dan memberikan masukan untuk merumuskan rekomendasi perbaikan sanitasi yang terukur.
Andi meminta perangkat daerah dan puskesmas mengintegrasikan hasil EHRA dengan data kesehatan di desa dan kelurahan. Data yang dimaksud mencakup persoalan stunting, gizi buruk, tuberkulosis atau TBC, kusta, dan penyakit lainnya.
Wilayah yang memiliki risiko sanitasi tinggi sekaligus beban masalah kesehatan besar, menurut Andi, perlu diverifikasi sebelum dipertimbangkan sebagai lokasi intervensi terpadu. Penggabungan data itu diarahkan untuk memperoleh gambaran kondisi masyarakat yang lebih menyeluruh.
Kualitas air perlu diperiksa di laboratorium
Andi juga menekankan perlunya pengujian kualitas air bersih dengan melibatkan petugas puskesmas dan laboratorium kesehatan Dinas Kesehatan.
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) serta perangkat daerah terkait diminta berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dan puskesmas untuk meminimalkan risiko kesehatan lingkungan.
Artikel ini merupakan siaran pers resmi yang diterbitkan melalui Meja Redaksi GARIS BUMI. Materi telah melalui peninjauan editorial untuk kenyamanan dan kejelasan informasi bagi pembaca.
Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi