Sinjai Minta Data Risiko Sanitasi Jadi Dasar Penentuan Wilayah dan Anggaran
GARISBUMI.com โ SINJAI, GARISBUMI.COM | Pemerintah Kabupaten Sinjai meminta hasil kajian risiko kesehatan lingkungan digunakan untuk menentukan wilayah prioritas, program, dan kebutuhan anggaran perbaikan sanitasi. Data pengelolaan air limbah domestik, sampah rumah tangga, serta kondisi sumber air perlu dipadukan dengan data kesehatan hingga tingkat desa dan kelurahan.
Arahan itu disampaikan Sekretaris Daerah Kabupaten Sinjai Andi Jefrianto Asapa dalam konsultasi publik dokumen Environmental Health Risk Assessment (EHRA) atau penilaian risiko kesehatan lingkungan di Kantor Bupati Sinjai, Kamis (29/10/2026).
โDokumen EHRA ini harus menjadi dasar bagi kita dalam menentukan wilayah prioritas, perangkat daerah yang bertanggung jawab, serta program dan anggaran yang perlu direncanakan,โ kata Andi, sebagaimana dikutip dari Humas Pemkab Sinjai.
Arahan tersebut menempatkan hasil kajian sebagai dasar pengambilan keputusan pembangunan. Tindak lanjutnya mencakup penentuan lokasi yang membutuhkan penanganan, pembagian tanggung jawab antarperangkat daerah, serta perencanaan program dan anggaran.
Namun, keterangan Pemkab Sinjai belum memuat hasil rinci studi EHRA 2026, termasuk wilayah dengan risiko sanitasi tertinggi, jumlah rumah tangga yang dikaji, maupun kebutuhan anggaran penanganannya.
Petakan air limbah, sampah, dan sumber air
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sinjai Kahar Anies menjelaskan, studi EHRA digunakan untuk mengidentifikasi kondisi sanitasi dan faktor risiko kesehatan lingkungan di tingkat rumah tangga maupun masyarakat.
Artikel ini merupakan siaran pers resmi yang diterbitkan melalui Meja Redaksi GARIS BUMI. Materi telah melalui peninjauan editorial untuk kenyamanan dan kejelasan informasi bagi pembaca.
Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi