Sampah Plastik Jadi Furnitur di Bali, Satu Kursi Setara 2.000 Kantong
BALI, GARISBUMI.com – Sampah plastik yang dikumpulkan dan dipilah melalui kegiatan pengelolaan sampah sungai di Bali diolah menjadi furnitur untuk dipasarkan. Salah satu produknya berupa kursi yang, menurut Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), menggunakan material setara sekitar 2.000 kantong plastik.
Praktik pengolahan sampah plastik menjadi furnitur tersebut dipelajari delegasi 11th GEF International Waters Conference (IWC-11) dalam kunjungan lapangan ke Sungai Watch dan Sungai Design di Bali, Selasa (20/10/2026).
Di Pusat Komunitas Sungai Watch, delegasi mengamati penggunaan penghalang sampah pada aliran sungai. Penghalang itu digunakan untuk menangkap sampah sebelum terbawa menuju laut.
Sampah yang terkumpul kemudian dipilah untuk menentukan material yang dapat diolah dan dimanfaatkan kembali.
Rangkaian kunjungan berlanjut ke Sungai Design. Di lokasi ini, delegasi melihat bagaimana material plastik hasil pengumpulan dan pemilahan diolah menjadi furnitur siap pakai yang dipasarkan secara komersial.
Proses tersebut menjadi contoh penerapan ekonomi sirkular, yakni mempertahankan kegunaan material melalui pengolahan dan pemanfaatan kembali. Plastik yang sebelumnya berpotensi mencemari perairan digunakan sebagai bahan produk bernilai ekonomi.
Perwakilan Arafura and Timor Seas Ecosystem Action (ATSEA), Casandra Tania, mengapresiasi pengembangan usaha tersebut.
Artikel ini merupakan siaran pers resmi yang diterbitkan melalui Meja Redaksi GARIS BUMI. Materi telah melalui peninjauan editorial untuk kenyamanan dan kejelasan informasi bagi pembaca.
Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi