Sumatera Barat Siapkan Rencana Lingkungan 30 Tahun, Susun Empat Skenario
Empat Skenario untuk Menghadapi Perubahan Iklim
Penyusunan skenario lingkungan menjadi penting bagi Sumatera Barat karena keragaman bentang alamnya. Wilayah provinsi ini mencakup pegunungan Bukit Barisan, daerah aliran sungai, kawasan pertanian dan perkotaan, hingga pesisir serta Kepulauan Mentawai.
Masing-masing wilayah memiliki karakteristik ekologis dan tekanan lingkungan yang berbeda. Kondisi tersebut perlu diperhitungkan dalam menentukan arah pembangunan dan lokasi prioritasnya.
Empat skenario yang dipaparkan Pemprov Sumatera Barat disusun berdasarkan dua faktor penggerak utama. Pertama, transisi menuju ekonomi hijau, biru, sirkular, dan rendah karbon. Kedua, proyeksi perubahan iklim serta ketahanan wilayah.
Skenario tersebut menjadi bahan untuk merumuskan kebijakan perlindungan lingkungan yang sesuai dengan kemungkinan kondisi daerah pada masa mendatang.
Data Lingkungan Jadi Dasar Pembangunan
Hariani menekankan pentingnya data dan informasi lingkungan yang valid. Data itu mencakup karakteristik ekoregion, daya dukung dan daya tampung lingkungan, jasa lingkungan, keanekaragaman hayati, serta peta risiko lingkungan.
Seluruh informasi tersebut diintegrasikan menggunakan Kode Referensi Ekoregion (KRE) agar kebijakan pembangunan selaras dengan kondisi di lapangan.
RPPLH juga perlu terhubung dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD), Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), serta penganggaran daerah. Dengan keterkaitan itu, pertimbangan lingkungan dapat masuk ke dalam penentuan program dan alokasi anggaran pembangunan.
Artikel ini merupakan siaran pers resmi yang diterbitkan melalui Meja Redaksi GARIS BUMI. Materi telah melalui peninjauan editorial untuk kenyamanan dan kejelasan informasi bagi pembaca.
Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi