Setelah Truk Sampah Pergi
GARISBUMI.com – Ada satu suara yang sering membuat orang bergegas keluar rumah pada pagi hari. Bukan suara tukang sayur. Bukan pula penjual roti. Suara kendaraan pengangkut sampah.
Begitu terdengar dari ujung gang, kantong-kantong plastik segera dikeluarkan. Ada yang terikat rapi, bocor di bagian bawah, atau harus diangkat sambil menjauhkan tangan dari badan karena aromanya mulai tidak bersahabat.
Kantong itu masuk ke gerobak. Gerobaknya berjalan. Kita kembali masuk rumah. Selesai.
Setidaknya, begitu perasaan kita. Dapur kembali bersih. Hati juga ikut tenang. Ke mana sampah itu pergi, jarang kita pikirkan. Yang penting, bukan lagi di depan rumah. Padahal, bagi sampah, perjalanan baru saja dimulai.
Tanggal 20 September diperingati sebagai World Cleanup Day atau Hari Bersih-Bersih Sedunia. Peringatannya terasa sepi. Tidak banyak kabar tentang gerakan membersihkan sungai, pantai, jalan, atau ruang publik.
Mungkin ada. Hanya saja, gaungnya jauh lebih kecil dibandingkan persoalan sampah yang setiap hari semakin besar.
Peringatan memang tidak harus selalu ramai. Tidak harus ada panggung, pidato, kaus seragam, dan foto bersama. Kadang-kadang, peringatan cukup membuat kita berhenti dan bertanya: setelah truk sampah pergi, urusan siapa yang dimulai?
Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional milik Kementerian Lingkungan Hidup, Banten menghasilkan sekitar 8.000 ton sampah setiap hari. Dari jumlah itu, baru sekitar 1.000 ton yang dapat dikelola.
Saya tidak tahu bagaimana cara membayangkan 8.000 ton sampah. Menimbang satu kantong sampah di rumah saja kita tidak pernah. Namun, jika yang mampu dikelola hanya sekitar seperdelapannya, kita tidak perlu pandai berhitung untuk mengetahui ada masalah besar.
Masalah itu tidak hilang. Hanya diletakkan jauh dari pandangan kita. Sampah berangkat dari rumah menuju gerobak. Dari gerobak pindah ke truk. Dari truk dibawa ke tempat pemrosesan akhir.
Namanya terdengar meyakinkan. Seolah-olah setelah sampai di sana, sampah benar-benar diproses sampai urusannya selesai.
Kenyataannya, banyak sampah hanya datang, dibongkar, kemudian ditumpuk. Besok datang lagi. Ditumpuk lagi. Lusa begitu juga.
Lama-lama, yang tumbuh bukan sistem pengolahan. Yang tumbuh gunung baru.
Gunung-gunung itu tumbuh di Jatiwaringin, Cilowong, Bangkonol, Dengung, Cihara, Rawa Kucing, Cipeucang, hingga Bagendung. Tempat-tempat yang jarang kita sebut kecuali ketika ada masalah.
Nama-nama itu mungkin jauh dari rumah kita. Namun, sebagian isi rumah kita berakhir di sana. Bungkus kopi, kotak makanan, botol plastik, kantong belanja, tisu, sisa nasi, pakaian bekas, dan sayuran yang lupa dimasak sampai membusuk di kulkas.
Semua berkumpul menjadi satu. Barang-barang yang datang dengan merek dan harga berbeda akhirnya tinggal bersama di tempat yang sama.
Masalahnya, tumpukan itu tidak hanya diam. Air lindinya merembes ke tanah. Baunya ikut angin ke permukiman. Gas metana terbentuk di bawah timbunan. Ketika hujan, ada risiko pencemaran dan longsor. Saat kemarau, kebakaran mengintai.
Kita menyebutnya tempat pemrosesan akhir. Warga di sekitarnya mungkin mengenalnya dengan cara lain: bau yang datang tanpa diundang.
Teknologi pengolahan sebenarnya sudah tersedia. Sampah organik dapat diolah. Plastik bisa dipilah dan didaur ulang. Sebagian sampah dapat dimanfaatkan menjadi bahan bakar atau energi.
Pilihannya banyak. Alasan menunda juga tidak kalah banyak.
Yang paling sering terdengar: mahal.
Memang mahal. Namun, membiarkan sampah menumpuk juga tidak gratis. Ada air tanah yang terancam tercemar, kesehatan warga yang dipertaruhkan, dan lahan baru yang harus dicari ketika TPA penuh.
Kita sering pandai menghitung harga mesin, tetapi lupa menghitung harga akibat tidak memilikinya.
Pemerintah memegang tanggung jawab besar. Masyarakat tidak bisa terus diminta memilah sampah jika akhirnya semuanya dicampur kembali di atas truk yang sama.
Itu seperti meminta orang menyusun pakaian berdasarkan warna, lalu petugas laundry datang membawa satu karung untuk semuanya.
Warga akhirnya kapok. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena merasa usahanya tidak menuju ke mana-mana. Jangan sampai pemilahan hanya rapi di poster.
Namun, kita juga tidak bisa menyerahkan seluruh persoalan kepada pemerintah. Banyak barang masuk ke tempat sampah bukan karena benar-benar tidak berguna, tetapi karena kita membeli terlalu banyak, memakai terlalu sebentar, lalu membuang terlalu cepat.
Produsen pun tidak boleh hanya hadir ketika barangnya masih berada di rak toko. Setelah produk terjual, bungkusnya tidak mendadak menjadi anak yatim yang harus diasuh pemerintah daerah.
World Cleanup Day tahun ini boleh terasa sepi. Yang berbahaya adalah ketika kesadaran kita ikut sepi.
Besok pagi, suara kendaraan pengangkut sampah akan terdengar lagi. Kita menyerahkan kantong plastik, lalu kembali masuk ke rumah dengan perasaan lega. Rumah kita kembali bersih.
Namun, setelah kendaraan itu pergi, sampah kita tidak ikut pergi dari kehidupan. Ia hanya pindah alamat.
Tanggal bisa berganti. Peringatan bisa lewat. Sampahnya tetap tinggal.
Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi