Setelah Truk Sampah Pergi
Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional milik Kementerian Lingkungan Hidup, Banten menghasilkan sekitar 8.000 ton sampah setiap hari. Dari jumlah itu, baru sekitar 1.000 ton yang dapat dikelola.
Saya tidak tahu bagaimana cara membayangkan 8.000 ton sampah. Menimbang satu kantong sampah di rumah saja kita tidak pernah. Namun, jika yang mampu dikelola hanya sekitar seperdelapannya, kita tidak perlu pandai berhitung untuk mengetahui ada masalah besar.
Masalah itu tidak hilang. Hanya diletakkan jauh dari pandangan kita. Sampah berangkat dari rumah menuju gerobak. Dari gerobak pindah ke truk. Dari truk dibawa ke tempat pemrosesan akhir.
Namanya terdengar meyakinkan. Seolah-olah setelah sampai di sana, sampah benar-benar diproses sampai urusannya selesai.
Kenyataannya, banyak sampah hanya datang, dibongkar, kemudian ditumpuk. Besok datang lagi. Ditumpuk lagi. Lusa begitu juga.
Lama-lama, yang tumbuh bukan sistem pengolahan. Yang tumbuh gunung baru.
Gunung-gunung itu tumbuh di Jatiwaringin, Cilowong, Bangkonol, Dengung, Cihara, Rawa Kucing, Cipeucang, hingga Bagendung. Tempat-tempat yang jarang kita sebut kecuali ketika ada masalah.
Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi