Mangrove untuk Jejak Karbon Delegasi COP31, Hasilnya Perlu Dibuktikan
Angka itu merupakan proyeksi berdasarkan asumsi, bukan hasil pengukuran karbon yang sudah terserap. KLH/BPLH juga menyatakan penanaman membutuhkan pemeliharaan jangka panjang dan penyulaman.
Keberhasilan mangrove melampaui jumlah bibit
Konteks ekologis menentukan apakah proyeksi tersebut dapat tercapai. Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) menjelaskan bahwa ketidaksesuaian jenis mangrove dengan kondisi hidrologi, termasuk frekuensi dan kedalaman genangan pasang, merupakan penyebab utama kegagalan restorasi.
FAO juga mengingatkan bahwa fokus berlebihan pada penanaman dapat menghasilkan tegakan pohon tanpa memulihkan fungsi ekosistem mangrove sebagai habitat ikan, kepiting, dan organisme lain yang menopang kehidupan masyarakat.
Program Lingkungan PBB (UNEP) menekankan perlunya memahami penyebab kerusakan sebelum menanam. Ketika tekanan seperti pencemaran atau pemanenan berlebihan dapat dihentikan, mangrove pada kondisi tertentu bisa pulih secara alami. Pelibatan masyarakat dan pemilihan bibit lokal juga menjadi bagian penting pemulihan.
Apa yang perlu dibuka kepada publik?
Rilis KLH/BPLH belum merinci metode penghitungan emisi penerbangan maupun dasar penerapan asumsi serapan per pohon pada lokasi penanaman tersebut.
Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi