TERKINI

Ketika Papan Larangan Ikut Marah

Ketika Papan Larangan Ikut Marah
INSIGHT
Dok. Redaksi GARIS BUMI
Foto liputan: Ketika Papan Larangan Ikut Marah

GARISBUMI.com – Papan itu sudah lama berdiri. Catnya mengelupas. Tiangnya berkarat. Sebagian tulisannya tertutup daun merambat.

Kalau diperhatikan, pesannya masih bisa ditebak: DILARANG MEMBUANG SAMPAH DI SINI.

Di bawahnya, sampah terus bertambah.

Barangkali papan itu benda paling sabar di pinggir jalan. Setiap hari menyampaikan larangan yang sama, setiap hari pula menerima kiriman yang dilarangnya.

Kiriman datang bersama kesibukan pagi. Ada yang membawa kantong sampah dari rumah, sekalian berangkat kerja. Ada yang sekalian hendak membeli sayuran. Berhenti sebentar, menoleh, lalu melempar. Urusan rumah selesai sebelum urusan kantor dimulai.

Rumah bersih. Pinggir jalan mendapat tambahan pekerjaan.

Saya membayangkan, sebelum berangkat, kantong itu diikat cukup rapi agar isinya tidak tercecer di kendaraan. Tetapi setelah sampai di tempat pembuangan pilihan sendiri, nasib isinya diserahkan kepada siapa saja. Kepada hujan, angin, pengguna jalan, atau petugas yang kelak datang membersihkan. Yang penting sudah jauh dari rumah.

Ada pula yang membuang sampah dari balik kaca mobil. Kaca diturunkan sedikit, tangan keluar sebentar, bungkus makanan berpindah tempat. Setelah itu kaca ditutup lagi. Perjalanan dilanjutkan dalam kabin yang tetap nyaman.

Jalan raya seperti halaman belakang yang boleh dikotori bersama.

Lama-kelamaan, kantong pertama mendapat teman. Orang berikutnya mungkin merasa lebih ringan membuang di tempat yang sudah kotor. Sudah ada sampahnya, pikirnya. Tambahan satu kantong seolah tidak akan mengubah keadaan. Padahal, gunung itu juga berawal dari sesuatu yang dianggap sedikit.

Di sejumlah tempat, papan larangan akhirnya berganti bahasa. Kalimat yang semula sopan berubah menjadi sumpah serapah. Ada nama binatang. Ada sebutan ODGJ. Ada pula doa buruk, sampai permintaan agar nyawa si pembuang sampah dicabut.

Membacanya membuat saya bertanya-tanya: sudah berapa lama orang yang memasang tulisan itu menahan kesal?

Mungkin ia sudah berkali-kali membersihkan. Mungkin ia pernah menegur, tetapi malah diajak bertengkar.

Kemarahan itu dapat dimengerti. Namun, orang dengan gangguan jiwa tidak semestinya ikut dijadikan makian.

Papan yang marah menunjukkan betapa panjang urusan yang tidak selesai. Orang yang membuang mungkin hanya berhenti beberapa detik. Orang yang tinggal di dekatnya harus menghadapi akibatnya sepanjang hari.

Sementara itu, bahasa kampanye kita sudah melangkah jauh. Sampah harus dipilah dari rumah. Yang masih bernilai dikumpulkan. Ada bank sampah, ada warga dan komunitas yang tekun mengurusnya.

Usaha mereka patut dihargai. Mengajak tetangga memilah sampah tentu membutuhkan kesabaran yang lebih panjang daripada memasang satu spanduk.

Tetapi di ruas jalan lain, pelajaran paling dasar masih tertinggal: jangan melempar sampah ke tempat yang akan menyusahkan orang lain.

Mengetahui cara memilah rupanya belum tentu membuat seseorang bersedia menyimpan bungkus makanan sampai menemukan tempat sampah. Saat sosialisasi, kepala bisa mengangguk. Dalam perjalanan pulang, tangan masih bisa melempar.

Warga tentu perlu tahu ke mana sampah harus dibawa dan kapan akan diangkut. Ajakan membuang pada tempatnya akan terasa ganjil kalau tempat dan layanannya sulit ditemukan. Tetapi kalau semuanya sudah tersedia, apa lagi yang kita tunggu untuk membawa kantong itu sampai ke tempatnya?

Mungkin kampanye perlu dinilai juga dalam perjalanan pulang pesertanya. Ketika acara selesai, kamera sudah disimpan, dan tidak ada yang memperhatikan. Apakah gelas bekas minuman tetap dibawa, atau ikut keluar ketika kaca mobil dibuka?

Papan di pinggir jalan sudah terlalu lama bekerja. Mula-mula mengingatkan, kemudian melarang, akhirnya memaki.

Sampai berkarat pun ia belum berhasil.

Alur Baca Berita Menampilkan Semua Halaman (3 Bagian)
Mode Halaman
Sebelumnya
1 2 3
Selanjutnya

Bagaimana menurut Anda tentang liputan ini?

Beri reaksi pembaca untuk mengapresiasi karya jurnalistik ini:
MA
Mashudi Reporter Terverifikasi

Berfokus pada penyajian informasi mendalam, investigasi, dan jurnalisme berimbang bagi publik.

ARTIKEL SEBELUMNYA Mahasiswa Kehutanan Diajak Beraksi Sejak Kuliah, dari Pantau Hutan hingga Usaha Hijau ARTIKEL BERIKUTNYA Pusat Data AI Butuh Tambahan Listrik 20 GW, Energi Bersih Jadi Kunci Investasi
Diskusi & Komentar Pembaca (0)

Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi

Tanggapan akan disaring dan diverifikasi redaksi terlebih dahulu sebelum terbit.
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Berita Terkait Lainnya

Lihat Semua di Rubrik INSIGHT
1 minggu yang lalu
3 hari yang lalu
1 minggu yang lalu