Ketika Papan Larangan Ikut Marah
Usaha mereka patut dihargai. Mengajak tetangga memilah sampah tentu membutuhkan kesabaran yang lebih panjang daripada memasang satu spanduk.
Tetapi di ruas jalan lain, pelajaran paling dasar masih tertinggal: jangan melempar sampah ke tempat yang akan menyusahkan orang lain.
Mengetahui cara memilah rupanya belum tentu membuat seseorang bersedia menyimpan bungkus makanan sampai menemukan tempat sampah. Saat sosialisasi, kepala bisa mengangguk. Dalam perjalanan pulang, tangan masih bisa melempar.
Warga tentu perlu tahu ke mana sampah harus dibawa dan kapan akan diangkut. Ajakan membuang pada tempatnya akan terasa ganjil kalau tempat dan layanannya sulit ditemukan. Tetapi kalau semuanya sudah tersedia, apa lagi yang kita tunggu untuk membawa kantong itu sampai ke tempatnya?
Mungkin kampanye perlu dinilai juga dalam perjalanan pulang pesertanya. Ketika acara selesai, kamera sudah disimpan, dan tidak ada yang memperhatikan. Apakah gelas bekas minuman tetap dibawa, atau ikut keluar ketika kaca mobil dibuka?
Papan di pinggir jalan sudah terlalu lama bekerja. Mula-mula mengingatkan, kemudian melarang, akhirnya memaki.
Sampai berkarat pun ia belum berhasil.
Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi