Ketika Papan Larangan Ikut Marah
Jalan raya seperti halaman belakang yang boleh dikotori bersama.
Lama-kelamaan, kantong pertama mendapat teman. Orang berikutnya mungkin merasa lebih ringan membuang di tempat yang sudah kotor. Sudah ada sampahnya, pikirnya. Tambahan satu kantong seolah tidak akan mengubah keadaan. Padahal, gunung itu juga berawal dari sesuatu yang dianggap sedikit.
Di sejumlah tempat, papan larangan akhirnya berganti bahasa. Kalimat yang semula sopan berubah menjadi sumpah serapah. Ada nama binatang. Ada sebutan ODGJ. Ada pula doa buruk, sampai permintaan agar nyawa si pembuang sampah dicabut.
Membacanya membuat saya bertanya-tanya: sudah berapa lama orang yang memasang tulisan itu menahan kesal?
Mungkin ia sudah berkali-kali membersihkan. Mungkin ia pernah menegur, tetapi malah diajak bertengkar.
Kemarahan itu dapat dimengerti. Namun, orang dengan gangguan jiwa tidak semestinya ikut dijadikan makian.
Papan yang marah menunjukkan betapa panjang urusan yang tidak selesai. Orang yang membuang mungkin hanya berhenti beberapa detik. Orang yang tinggal di dekatnya harus menghadapi akibatnya sepanjang hari.
Sementara itu, bahasa kampanye kita sudah melangkah jauh. Sampah harus dipilah dari rumah. Yang masih bernilai dikumpulkan. Ada bank sampah, ada warga dan komunitas yang tekun mengurusnya.
Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi