Karhutla Tanjung Puting, Pemerintah Siapkan 30 Sumur Bor untuk Cegah Api ke Zona Inti
KOTAWARINGIN BARAT, GARISBUMI.com – Pemerintah menyiapkan penambahan sekitar 30 sumur bor dan pengerahan sekitar 160 personel gabungan untuk menangani salah satu lokasi prioritas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Langkah ini ditujukan untuk mencegah api meluas ke zona inti kawasan konservasi habitat orangutan tersebut.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan, pemetaan menggunakan drone termal mengidentifikasi empat lokasi prioritas penanganan. Pada salah satu lokasi, bentang api terpantau mencapai sekitar dua kilometer.
Strategi pemadaman dibahas dalam rapat terbatas di Kantor Balai Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat, Rabu (14/10/2026). Pertemuan melibatkan pemerintah daerah, TNI, Polri, BPBD, BNPB, serta unsur terkait.
Salah satu kawasan yang menjadi perhatian utama berada di dekat area pemberian pakan orangutan. Di lokasi tersebut, pemerintah menyiapkan penambahan sumur bor, pengerahan petugas darat, dan kajian pembuatan sekat bakar dengan memperhitungkan kondisi serta kedalaman gambut.
“Tadi kita sepakati bahwa kita akan melakukan dua langkah. Yang pertama adalah mencegat titik api dengan memperbanyak sumur bor. Kita juga melihat kemungkinan membuat sekat bakar, termasuk mempertimbangkan kondisi kedalaman gambut. Tapi intinya, kita mencegah agar api tidak masuk ke zona inti,” ujar Raja Juli.
Operasi pemadaman juga diprioritaskan di Teluk Pulai, Sungai Bulu Kecil dan Sungai Bulu Besar, serta kawasan Sungai Baung dan Tanjung Rengas.
Untuk lokasi yang sulit dijangkau, pemerintah menyiapkan penempatan personel beserta logistik selama beberapa hari. Dengan cara ini, pemadaman diharapkan dapat berlangsung berkelanjutan tanpa perjalanan keluar-masuk kawasan setiap hari.
Asap Tebal Kendalakan Helikopter Pemadam
Raja Juli menjelaskan, dukungan enam helikopter pengebom air atau water bombing tersedia di Kalimantan Tengah. Namun, penggunaannya menghadapi kendala jarak pandang akibat asap tebal, termasuk di sekitar Pangkalan Bun dan Palangka Raya.
Pemerintah menyiapkan alternatif pengoperasian helikopter melalui Bandara Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan, yang dilaporkan memiliki jarak pandang lebih memungkinkan.
“Kita akan mencoba memindahkan helikopter yang ada di Kalimantan Selatan, paling tidak mungkin bisa pinjam satu terlebih dahulu. Kemudian juga dari daerah-daerah lain yang kondisinya mulai membaik. Kita coba geser ke Kuala Pembuang dan melakukan water bombing dari sana,” jelasnya.
Selain pemadaman udara, pemerintah menyiapkan opsi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan mempertimbangkan potensi pertumbuhan awan hujan pada 15–16 Oktober 2026.
Apabila penerbangan dari Kalimantan Tengah masih terkendala asap, operasi tersebut direncanakan menggunakan alternatif penerbangan dari Bandara Syamsudin Noor, Kalimantan Selatan.
Libatkan Masyarakat di 15 Desa
Pemadaman darat melibatkan Manggala Agni Kementerian Kehutanan, TNI, Polri, BPBD, relawan, dan Masyarakat Peduli Api (MPA).
Pemerintah juga mendorong keterlibatan warga di 15 desa sekitar Taman Nasional Tanjung Puting melalui pembentukan dan penguatan kelompok MPA, disertai dukungan peralatan pemadaman.
Raja Juli mengatakan, penanganan kebakaran di kawasan gambut membutuhkan koordinasi lintas pihak dan operasi yang konsisten hingga api dapat dikendalikan. Ia mengapresiasi petugas serta relawan yang bekerja dalam kondisi lapangan sulit.
“Apa yang mampu dilakukan oleh pemerintah akan kita lakukan. Water bombing, OMC, penggerakan pasukan darat yang lebih masif, sumur bor. Insyaallah kita akan bekerja lebih keras lagi demi masyarakat,” katanya.
Penanganan karhutla Tanjung Puting difokuskan pada keselamatan masyarakat, perlindungan habitat satwa liar, serta pencegahan meluasnya kebakaran ke zona inti kawasan konservasi.
Caption;
Rapat koordinasi penanganan karhutla di Kantor Balai Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, Rabu (14/10/2026).
Artikel ini merupakan siaran pers resmi yang diterbitkan melalui Meja Redaksi GARIS BUMI. Materi telah melalui peninjauan editorial untuk kenyamanan dan kejelasan informasi bagi pembaca.
Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi