Dari Botol Bekas, Orang Tua di Semper Barat Bantu Biayai Sekolah Anak
JAKARTA, GARISBUMI.com – Botol plastik dan kardus bekas yang dikumpulkan Ratnasari (35) dari rumah membantu memenuhi kebutuhan keluarganya, termasuk biaya pendidikan anak. Selama dua tahun, ia mengikuti program tabungan Bank Sampah Kenanga di RW 04, Kelurahan Semper Barat, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara.
“Setiap pekan, saya bisa mengumpulkan rata-rata lima kilogram botol plastik bersih dan tiga kilogram kardus bekas,” ujarnya, Jumat (23/10/2026).
Bagi Ratnasari, memilah sampah kini menjadi kebiasaan yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus meningkatkan kepedulian keluarga terhadap kebersihan lingkungan.
Pengalaman itu menjadi bagian dari program Bank Sampah Kenanga yang menghubungkan pengelolaan sampah dengan pendidikan anak usia dini (PAUD). Orang tua dibiasakan membawa sampah anorganik bernilai jual, seperti botol plastik dan kardus, ketika mengantar anak ke sekolah.
Bendahara Bank Sampah Kenanga, Nur Lela, mengatakan hasil tabungan dapat digunakan untuk membantu membayar biaya pendidikan.
“Kami ingin anak-anak terbiasa memilah sampah sejak dini. Hasil tabungannya juga dapat dimanfaatkan untuk membantu membayar biaya sekolah,” katanya.
Botol Plastik Bersih Dihargai Rp4.500 per Kilogram
Menurut Nur Lela, botol plastik bersih yang disetorkan langsung ke sekolah dihargai Rp4.500 per kilogram. Untuk layanan jemput bola, harga yang diberikan berkisar Rp3.000 hingga Rp3.500 per kilogram.
Perbedaan harga tersebut mengikuti jenis layanan penyetoran. Sampah bernilai jual kemudian disalurkan kepada pengepul mitra, sementara sebagian material dimanfaatkan menjadi pot bunga, vas, dan kerajinan plastik.
“Pengelolaan sampah tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan kembali material yang masih memiliki nilai guna,” ujar Nur Lela.
Saat ini, Bank Sampah Kenanga memiliki 823 nasabah yang berpartisipasi mengumpulkan sampah bernilai ekonomi.
PAUD Kenanga mulai beroperasi pada 2021, setahun setelah bank sampah dirintis. Lembaga tersebut kini melayani 20 peserta didik dengan pendampingan empat tenaga pendidik.
Pembelajaran dibagi dalam dua sesi, pukul 08.00–09.30 WIB dan 10.00–11.30 WIB. Nur Lela menyebut sesi pertama juga mengakomodasi anak berkebutuhan khusus.
Melalui kegiatan yang terhubung dengan sekolah, pemilahan sampah menjadi bagian dari keseharian keluarga. Bagi orang tua seperti Ratnasari, material yang terkumpul dari rumah memiliki kegunaan baru: membantu kebutuhan pendidikan anak.
Artikel ini merupakan siaran pers resmi yang diterbitkan melalui Meja Redaksi GARIS BUMI. Materi telah melalui peninjauan editorial untuk kenyamanan dan kejelasan informasi bagi pembaca.
Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi