Sampah Jadi Tabungan Warga Joglo, Bank Sampah Berdikari Bertahan Hampir 13 Tahun
Pada awal berdiri, jumlah nasabahnya hanya 10 orang. Perjalanannya juga sempat tersendat hingga kegiatan operasional berhenti sekitar satu tahun.
Marini bersama pengurus kemudian kembali mengembangkan kegiatan bank sampah. Cakupannya bertambah, dari pengelolaan sampah organik dan anorganik hingga budidaya maggot, pertanian perkotaan atau urban farming, pembuatan eco-enzyme, serta pemberdayaan remaja.
Pengalaman itu memperlihatkan bahwa keberlangsungan pengelolaan sampah di tingkat warga membutuhkan pengurus dan partisipasi masyarakat yang terus terjaga.
Menerima plastik hingga sisa makanan
Lurah Joglo, Rizky Denni Ananda, mengatakan kemampuan menerima sampah organik dan anorganik menjadi salah satu keunggulan Bank Sampah Berdikari.
Selain plastik dan kardus, bank sampah tersebut menerima sisa sayuran, makanan, serta buah-buahan untuk diolah. Dengan cakupan itu, layanan pengelolaan sampahnya menjangkau beragam jenis sampah rumah tangga.
“Harapan saya ke depannya agar dapat menular ke seluruh wilayah yang ada di Joglo. Kemudian, pengelolaannya bisa dipertahankan dan lebih ditingkatkan lagi pelayanannya,” ujar Rizky.
Artikel ini merupakan siaran pers resmi yang diterbitkan melalui Meja Redaksi GARIS BUMI. Materi telah melalui peninjauan editorial untuk kenyamanan dan kejelasan informasi bagi pembaca.
Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi