Mahasiswa Kehutanan Diajak Beraksi Sejak Kuliah, dari Pantau Hutan hingga Usaha Hijau
Kontribusi tersebut dapat dimulai melalui kampanye edukasi kehutanan di media sosial, pengembangan teknologi pemantauan hutan, pendampingan masyarakat sekitar kawasan hutan, maupun penciptaan usaha yang mendukung kelestarian sumber daya hutan.
Mahasiswa juga berpeluang terlibat sebagai edukator lingkungan, fasilitator kegiatan, pengembang inovasi, wirausaha hijau, serta mitra pelaksanaan aksi konservasi di berbagai daerah.
Program Pembinaan Catat 9.254 Partisipasi
Untuk mendukung keterlibatan generasi muda, Pusgenri mengembangkan sejumlah program pembinaan, yakni Bestari Rimba, Youth Talk Take Action (YTTA), Forest Youthverse (FYV), Forest Youthpreneurship (FYP), serta Pramuka Saka Wanabakti.
Berdasarkan keterangan Kementerian Kehutanan, sepanjang 2025–2026 program-program tersebut mencatat 9.254 partisipasi generasi muda dalam berbagai kegiatan pembinaan.
Program itu menggabungkan edukasi, penguatan kapasitas, inovasi, kewirausahaan, dan aksi konservasi. Tujuannya agar kepedulian terhadap hutan berkembang menjadi keterampilan serta kontribusi yang dapat diterapkan.
Ernawati juga menjelaskan penguatan pengembangan sumber daya manusia di Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP2SDM) Kementerian Kehutanan.
Langkahnya mencakup pengembangan Corporate University, Assessment Center, manajemen talenta berbasis meritokrasi, dan pembinaan generasi muda melalui Pusgenri. Pengembangan SDM diarahkan untuk menyiapkan tenaga kehutanan yang kompeten, adaptif, dan inovatif.
Artikel ini merupakan siaran pers resmi yang diterbitkan melalui Meja Redaksi GARIS BUMI. Materi telah melalui peninjauan editorial untuk kenyamanan dan kejelasan informasi bagi pembaca.
Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi