Datang Sebelum Api Datang
GARISBUMI.com – Setiap musim kemarau, ada satu berita yang hampir selalu muncul: kebakaran hutan dan lahan.
Waktunya seperti sudah terjadwal. Sekitar Juli, Agustus, September. Mulai terlihat asap. Titik api bertambah. Petugas berdatangan. Tidak lama kemudian helikopter ikut terbang melakukan water bombing. Lalu kita ramai-ramai bicara karhutla. Begitu hampir setiap tahun.
Saya membuka data Kementerian Kehutanan. Dalam lima tahun, 2021 sampai 2025, luas hutan dan lahan yang terbakar mencapai 2.461.378 hektare. Paling parah terjadi pada 2023, mencapai 1.161.192 hektare.
Angka sebesar itu sulit dibayangkan. Yang lebih mudah mungkin asapnya. Sesak napasnya. Sekolah yang terganggu. Kebun yang rusak.
Saya mencoba mencari kerugian ekonomi akibat karhutla selama lima tahun itu. Tidak menemukan satu angka nasional yang terkonsolidasi.
Mungkin memang sulit menghitungnya. Sebab yang terbakar bukan hanya pohon dan lahan. Ada hasil pertanian yang hilang, produksi yang terganggu, biaya kesehatan, pendidikan dan pariwisata. Belum biaya memadamkan api. Kementerian Kehutanan, BNPB, TNI-Polri dan daerah sama-sama mengeluarkan biaya.
Kalau semuanya dikumpulkan, saya tidak tahu berapa jumlahnya. Yang pasti sangat mahal.
Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi