TERKINI

45 Ribu Mangrove Pulihkan 25 Hektare Pesisir Pulau Cangkir

45 Ribu Mangrove Pulihkan 25 Hektare Pesisir Pulau Cangkir
Foto liputan: 45 Ribu Mangrove Pulihkan 25 Hektare Pesisir Pulau Cangkir Dok. Redaksi Garis Bumi

TANGERANG – Sekitar 25 hektare kawasan pesisir Pulau Cangkir di Desa Kronjo, Kabupaten Tangerang, yang sebelumnya terdampak abrasi kini kembali produktif. Penanaman puluhan ribu batang mangrove tak hanya membantu melindungi garis pantai, tetapi juga menghidupkan kembali tambak dan membuka peluang usaha bagi warga pesisir.

Pemulihan tersebut dijalankan Taman Mangrove Pulo Cangkir (MAPUCA) dengan dukungan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pelindo. Sejak 2022, sekitar 40.000 hingga 45.000 batang mangrove telah ditanam dan dirawat di kawasan itu.

Perkembangan program tersebut disampaikan saat visitasi Radar Banten Award 2026, Kamis, 3 September 2026. Tim juri terdiri atas Sekretaris Bappeda Provinsi Banten Desta Munggara dan Redaktur Pelaksana Radar Banten Agus Priwandowo.

Dokumentasi: 45 Ribu Mangrove Pulihkan 25 Hektare Pesisir Pulau Cangkir
Dokumentasi: 45 Ribu Mangrove Pulihkan 25 Hektare Pesisir Pulau Cangkir Dok. Redaksi Garis Bumi

Presiden MAPUCA Heru mengatakan, gerakan konservasi tersebut berawal dari keprihatinan terhadap kerusakan pesisir utara Kabupaten Tangerang.

“Awalnya, daerah ini belum memiliki hutan mangrove dan terkena abrasi. Setiap hari ombak menghantam bibir pantai hingga ada tambak yang hancur sepanjang 25 meter,” kata Heru.

Puluhan Ribu Mangrove Ditanam

MAPUCA berdiri pada Agustus 2018 dan bergerak dalam konservasi sumber daya alam serta pemberdayaan masyarakat. Kegiatannya mencakup sektor perikanan, pertanian, dan pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Karena pembentukan daratan baru secara alami membutuhkan waktu panjang, MAPUCA memilih mempercepat pemulihan pesisir melalui penanaman mangrove secara masif.

Upaya itu mendapat dukungan program TJSL Pelindo pada 2022. Bantuan diberikan untuk penanaman, penyulaman, perawatan, hingga pengembangan hasil mangrove setelah masa panen.

“Bentuk bantuannya berupa penanaman sekitar 40.000 sampai 45.000 batang mangrove. Pembinaan diberikan mulai dari penanaman, penyulaman, dan perawatan hingga panen dan pascapanen,” jelas Heru.

Menurut dia, tanaman mangrove yang tumbuh di sepanjang bibir pantai kini berfungsi sebagai pelindung alami dari gelombang dan abrasi.

“Dulu, 25 hektare lahan terkena abrasi. Sekarang lahan itu sudah produktif kembali menjadi tambak dan kembali diberikan bantuan pembibitan. Kawasannya juga semakin tertata dan daratan mulai terbentuk lagi,” ujarnya.

Konservasi Mangrove Buka Peluang Usaha

Keberadaan hutan mangrove memberikan manfaat ekologis bagi kawasan Pulau Cangkir. Akarnya menjadi habitat dan tempat berkembang biak berbagai jenis ikan, sedangkan daun yang berguguran dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik.

Manfaat ekonomi juga mulai dirasakan masyarakat. Program tersebut melibatkan 25 warga setempat, dengan sembilan orang di antaranya menjadi penggerak aktif.

Masyarakat binaan mengolah bagian-bagian tanaman mangrove menjadi beragam produk, mulai dari makanan dan minuman hingga sabun cuci piring dan sabun mandi.

“Produk yang dihasilkan dari program ini cukup banyak. Kami membuat makanan, minuman, sabun cuci piring, dan sabun mandi dengan memanfaatkan buah, daun, serta bagian lain dari mangrove,” kata Heru.

MAPUCA kini menunggu tanaman yang ditanam pada 2022 menghasilkan buah secara maksimal. Hasil panen tersebut nantinya akan digunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi olahan mangrove.

Pulau Cangkir Disiapkan Menjadi Wisata Mangrove

Heru berharap kawasan Pulau Cangkir dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata alam mangrove dan agrowisata. Pengembangan wisata tersebut dinilai dapat memperluas pasar produk warga sekaligus mendukung pendidikan lingkungan.

“Harapannya, produk masyarakat pesisir bisa semakin dikenal, termasuk melalui marketplace. Pemerintah juga dapat membantu menyediakan gerai UMKM atau pusat oleh-oleh khas destinasi wisata,” ujarnya.

Menurut Heru, pengembangan kawasan tidak semata-mata berorientasi pada pariwisata. Program tersebut juga menyangkut perlindungan garis pantai dan keberlanjutan ruang hidup masyarakat nelayan.

Sementara itu, Junior Manager SDM, Umum, dan KBL Pelindo Lukman Salamudin mengatakan, perusahaan berencana melanjutkan program pemberdayaan masyarakat pesisir di sekitar kawasan mangrove.

“Ke depan, kami akan melanjutkan program pemberdayaan masyarakat pesisir melalui bantuan pembibitan serta budi daya ikan dan kepiting di sekitar mangrove. Hasilnya diharapkan dapat dipasarkan untuk kebutuhan domestik maupun ekspor,” kata Lukman. (red)

Sumber: Radar Banten
Reporter: Haidaru

Alur Baca Berita Menampilkan Semua Halaman (7 Bagian)
Mode Halaman
Sebelumnya
1 2 3 4 5 6 7
Selanjutnya

Bagaimana menurut Anda tentang liputan ini?

Beri reaksi pembaca untuk mengapresiasi karya jurnalistik ini:
ARTIKEL SEBELUMNYA WKP Gunung Endut Lebak Ditawarkan untuk Proyek Panas Bumi ARTIKEL BERIKUTNYA RDF Indah Kiat Serang Diklaim Terbesar di Asia Tenggara, Kapasitas 8.100 Ton per Hari
Diskusi & Komentar Pembaca (0)

Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi

Tanggapan akan disaring dan diverifikasi redaksi terlebih dahulu sebelum terbit.
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Berita Terkait Lainnya

Lihat Semua di Rubrik LINGKUNGAN
6 jam yang lalu
16 jam yang lalu
18 jam yang lalu