Setelah Runtuh, Ia Tumbuh Lagi
Tubuh Anak Krakatau menyusut dari sekitar 338 meter menjadi 110 meter setelah keruntuhan 2018. Namun, gunung itu tidak mati. Dari kawah yang terbuka ke laut, material vulkanik kembali membangun tubuhnya.
Bentuk Anak Krakatau tak lagi sama setelah malam 22 Desember 2018.
Kerucut yang selama puluhan tahun tumbuh di tengah Selat Sunda kehilangan sebagian besar tubuhnya. Puncaknya yang sebelumnya mencapai sekitar 338 meter di atas permukaan laut hanya tersisa sekitar 110 meter.
Kawahnya terbuka ke arah laut.
Dari kejauhan, gunung itu terlihat seperti telah dipotong. Bagian yang dahulu menjulang hilang bersama longsoran yang memicu tsunami ke pesisir Banten dan Lampung.
Namun, runtuh tidak berarti selesai.
Belum genap dua pekan setelah bencana, Anak Krakatau kembali meletus. Pada 4 Januari 2019, kolom abu membubung sekitar 1.500 meter di atas puncak. Gunung tersebut masih berstatus Level III atau Siaga.
Letusan saat itu berbeda dengan aktivitas sebelum keruntuhan. Air laut dapat masuk ke kawah dan bertemu dengan material panas. Pertemuan air dan magma menghasilkan letusan yang membawa uap, abu, dan material vulkanik.
Untuk para petugas, mengamati Anak Krakatau menjadi pekerjaan yang lebih rumit. Seismometer di pulau itu rusak akibat aktivitas 22 Desember 2018. Peralatan pemantauan harus dipasang kembali di pulau-pulau sekitar sambil menunggu cuaca dan kondisi gunung memungkinkan.
Pengamatan dilakukan dari Pos Pasauran di Banten dan Pos Hargo Pancuran di Lampung. Kamera, seismograf, satelit, dan berbagai perangkat lain menjadi mata serta telinga untuk mengikuti perubahan gunung dari kejauhan.
Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi