TERKINI
SERIAL ANAK KRAKATAU (BAGIAN 4)

Setelah Runtuh, Ia Tumbuh Lagi

Setelah Runtuh, Ia Tumbuh Lagi
Dokumentasi resmi PVMBG/Badan Geologi Kementerian ESDM
Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau pada Februari 2022.

Tubuh Anak Krakatau menyusut dari sekitar 338 meter menjadi 110 meter setelah keruntuhan 2018. Namun, gunung itu tidak mati. Dari kawah yang terbuka ke laut, material vulkanik kembali membangun tubuhnya.

Bentuk Anak Krakatau tak lagi sama setelah malam 22 Desember 2018.

Kerucut yang selama puluhan tahun tumbuh di tengah Selat Sunda kehilangan sebagian besar tubuhnya. Puncaknya yang sebelumnya mencapai sekitar 338 meter di atas permukaan laut hanya tersisa sekitar 110 meter.

Kawahnya terbuka ke arah laut.

Dari kejauhan, gunung itu terlihat seperti telah dipotong. Bagian yang dahulu menjulang hilang bersama longsoran yang memicu tsunami ke pesisir Banten dan Lampung.

Namun, runtuh tidak berarti selesai.

Belum genap dua pekan setelah bencana, Anak Krakatau kembali meletus. Pada 4 Januari 2019, kolom abu membubung sekitar 1.500 meter di atas puncak. Gunung tersebut masih berstatus Level III atau Siaga.

Letusan saat itu berbeda dengan aktivitas sebelum keruntuhan. Air laut dapat masuk ke kawah dan bertemu dengan material panas. Pertemuan air dan magma menghasilkan letusan yang membawa uap, abu, dan material vulkanik.

Untuk para petugas, mengamati Anak Krakatau menjadi pekerjaan yang lebih rumit. Seismometer di pulau itu rusak akibat aktivitas 22 Desember 2018. Peralatan pemantauan harus dipasang kembali di pulau-pulau sekitar sambil menunggu cuaca dan kondisi gunung memungkinkan.

Pengamatan dilakukan dari Pos Pasauran di Banten dan Pos Hargo Pancuran di Lampung. Kamera, seismograf, satelit, dan berbagai perangkat lain menjadi mata serta telinga untuk mengikuti perubahan gunung dari kejauhan.

Bagi masyarakat pesisir, setiap kepulan asap membawa ingatan lain.

Sebelum 2018, erupsi Anak Krakatau lebih sering dipahami sebagai ancaman lontaran batu, lava, dan abu. Setelah tsunami, perhatian tidak lagi hanya tertuju ke atas kawah, tetapi juga ke lereng dan laut di sekelilingnya.

Longsoran tubuh gunung menjadi ancaman yang harus ikut diperhitungkan. Waktu dan volumenya sulit diprediksi. Longsoran bahkan dapat terjadi ketika aktivitas gunung tidak sedang meningkat tajam.

Karena itu, pemantauan Selat Sunda ikut berubah. Salah satu perangkat yang kemudian dipasang adalah PUMMA, alat pendeteksi perubahan muka air laut secara waktu nyata. Perangkat tersebut ditempatkan di Pulau Rakata, bagian dari kompleks Krakatau.

Gunung dipantau. Laut juga diawasi.

Sementara manusia memperbaiki sistem peringatan, Anak Krakatau melanjutkan pekerjaannya sendiri.

Material baru kembali menumpuk. Letusan, lontaran batu pijar, abu, dan lava secara perlahan membentuk permukaan baru. Seperti pada masa kelahirannya, gunung itu membangun tubuh dari apa yang dikeluarkan perut bumi.

Pada Februari 2022, sembilan letusan tercatat dalam satu hari. Kolom abu mencapai 800 hingga 1.000 meter di atas puncak. Ratusan gempa berfrekuensi rendah dan gempa hembusan menunjukkan adanya pergerakan fluida serta magma menuju permukaan.

Aktivitas meningkat lagi pada April 2022. Status Anak Krakatau dinaikkan dari Level II atau Waspada menjadi Level III atau Siaga. Masyarakat, nelayan, dan wisatawan diminta tidak mendekati kawah dalam radius lima kilometer.

Gunung itu kembali memperlihatkan pijaran pada malam hari.

Pada Juni 2023, Anak Krakatau menyemburkan kolom abu hingga sekitar 3.000 meter di atas puncak. Letusan kembali terjadi beberapa kali pada November dan Desember tahun yang sama.

Meski aktif, tidak setiap letusan berarti akan terjadi tsunami. PVMBG terus membedakan ancaman langsung dari kawah dengan kemungkinan bahaya akibat perubahan atau keruntuhan tubuh gunung.

Itulah pelajaran penting setelah 2018. Waspada tidak sama dengan panik. Masyarakat memerlukan informasi yang cepat, tetapi juga harus memahami jenis bahaya yang sedang dihadapi.

Tahun demi tahun berlalu. Tubuh Anak Krakatau perlahan kembali terbentuk. Vegetasi mulai mencari tempat di bagian pulau yang lebih tenang. Petugas tetap mengawasinya dari dua sisi Selat Sunda.

Kemudian, memasuki pertengahan 2026, aktivitasnya kembali meningkat.

Pada suatu malam di awal September, suara gemuruh dan dentuman menyeberangi Selat Sunda. Getarannya dirasakan hingga tempat-tempat yang jauh dari kawah. Abu naik tinggi dan bergerak mengikuti angin.

Anak Krakatau kembali mengingatkan bahwa pertumbuhannya belum selesai.

Bersambung: Bagian 5, Dentuman yang Kembali Menyeberangi Selat

 

Alur Baca Berita Menampilkan Semua Halaman (3 Bagian)
Mode Halaman
Sebelumnya
1 2 3
Selanjutnya

Bagaimana menurut Anda tentang liputan ini?

Beri reaksi pembaca untuk mengapresiasi karya jurnalistik ini:
ARTIKEL SEBELUMNYA Malam Ketika Selat Sunda Mengirim Gelombang ARTIKEL BERIKUTNYA Dentuman yang Kembali Menyeberangi Selat
Diskusi & Komentar Pembaca (0)

Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi

Tanggapan akan disaring dan diverifikasi redaksi terlebih dahulu sebelum terbit.
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Berita Terkait Lainnya

Lihat Semua di Rubrik JELAJAH BUMI
1 jam yang lalu
1 jam yang lalu
2 jam yang lalu