Setelah Runtuh, Ia Tumbuh Lagi
Bagi masyarakat pesisir, setiap kepulan asap membawa ingatan lain.
Sebelum 2018, erupsi Anak Krakatau lebih sering dipahami sebagai ancaman lontaran batu, lava, dan abu. Setelah tsunami, perhatian tidak lagi hanya tertuju ke atas kawah, tetapi juga ke lereng dan laut di sekelilingnya.
Longsoran tubuh gunung menjadi ancaman yang harus ikut diperhitungkan. Waktu dan volumenya sulit diprediksi. Longsoran bahkan dapat terjadi ketika aktivitas gunung tidak sedang meningkat tajam.
Karena itu, pemantauan Selat Sunda ikut berubah. Salah satu perangkat yang kemudian dipasang adalah PUMMA, alat pendeteksi perubahan muka air laut secara waktu nyata. Perangkat tersebut ditempatkan di Pulau Rakata, bagian dari kompleks Krakatau.
Gunung dipantau. Laut juga diawasi.
Sementara manusia memperbaiki sistem peringatan, Anak Krakatau melanjutkan pekerjaannya sendiri.
Material baru kembali menumpuk. Letusan, lontaran batu pijar, abu, dan lava secara perlahan membentuk permukaan baru. Seperti pada masa kelahirannya, gunung itu membangun tubuh dari apa yang dikeluarkan perut bumi.
Pada Februari 2022, sembilan letusan tercatat dalam satu hari. Kolom abu mencapai 800 hingga 1.000 meter di atas puncak. Ratusan gempa berfrekuensi rendah dan gempa hembusan menunjukkan adanya pergerakan fluida serta magma menuju permukaan.
Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi