Gunung Muda yang Tak Pernah Diam
Anak Krakatau tumbuh melalui letusan demi letusan. Setiap kali alam mulai menghijaukan lerengnya, abu dan lava datang menutupnya kembali.
Suara itu terdengar sampai Pos Pengamatan Gunung Api Pasauran, Kabupaten Serang, sekitar 42 kilometer dari Anak Krakatau.
Kaca bangunan bergetar.
Malam membuat gunung di tengah Selat Sunda itu sulit terlihat dengan mata telanjang. Namun, kamera inframerah menangkap sinar api yang meluncur hingga 200 meter di atas puncak.
Peristiwa pada Juli 2018 tersebut bukan sesuatu yang benar-benar baru. Sejak muncul dari laut pada 1929, Anak Krakatau memang hampir tidak pernah diam lama.
Letusan adalah caranya tumbuh.
Material vulkanik yang keluar dari kawah jatuh dan menumpuk di lereng. Lava mengalir, lalu membeku. Lapisan baru terbentuk di atas lapisan lama. Tubuh gunung terus meninggi, sementara gelombang laut mengikis bagian tepinya.
Selama puluhan tahun, proses itu berlangsung berulang kali.
Pada tahun 2000, tingginya telah mencapai sekitar 315 meter di atas permukaan laut. Volume tubuhnya diperkirakan mencapai 5,52 kilometer kubik. Badan Geologi menghitung pertumbuhannya rata-rata sekitar empat meter per tahun.
Untuk ukuran manusia, empat meter mungkin hanya setinggi satu rumah. Namun, gunung itu menambah ketinggian tersebut setiap tahun, sedikit demi sedikit, melalui letusan yang tak terhitung jumlahnya.
Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi