Setelah Runtuh, Ia Tumbuh Lagi
Aktivitas meningkat lagi pada April 2022. Status Anak Krakatau dinaikkan dari Level II atau Waspada menjadi Level III atau Siaga. Masyarakat, nelayan, dan wisatawan diminta tidak mendekati kawah dalam radius lima kilometer.
Gunung itu kembali memperlihatkan pijaran pada malam hari.
Pada Juni 2023, Anak Krakatau menyemburkan kolom abu hingga sekitar 3.000 meter di atas puncak. Letusan kembali terjadi beberapa kali pada November dan Desember tahun yang sama.
Meski aktif, tidak setiap letusan berarti akan terjadi tsunami. PVMBG terus membedakan ancaman langsung dari kawah dengan kemungkinan bahaya akibat perubahan atau keruntuhan tubuh gunung.
Itulah pelajaran penting setelah 2018. Waspada tidak sama dengan panik. Masyarakat memerlukan informasi yang cepat, tetapi juga harus memahami jenis bahaya yang sedang dihadapi.
Tahun demi tahun berlalu. Tubuh Anak Krakatau perlahan kembali terbentuk. Vegetasi mulai mencari tempat di bagian pulau yang lebih tenang. Petugas tetap mengawasinya dari dua sisi Selat Sunda.
Kemudian, memasuki pertengahan 2026, aktivitasnya kembali meningkat.
Pada suatu malam di awal September, suara gemuruh dan dentuman menyeberangi Selat Sunda. Getarannya dirasakan hingga tempat-tempat yang jauh dari kawah. Abu naik tinggi dan bergerak mengikuti angin.
Anak Krakatau kembali mengingatkan bahwa pertumbuhannya belum selesai.
Bersambung: Bagian 5, Dentuman yang Kembali Menyeberangi Selat
Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi