TERKINI

Ketika Laut Melahirkan Gunung

SERIAL GUNUNG ANAK KRAKATAU (BAGIAN 1)
Ketika Laut Melahirkan Gunung
Dokumentasi resmi BNPB/PVMBG
Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda

Empat puluh empat tahun setelah Krakatau meledak dan sebagian tubuhnya runtuh, sesuatu bergerak dari dasar Selat Sunda. Mula-mula hanya semburan air dan asap. Lalu muncul sebidang tanah hitam yang berkali-kali hilang dihantam gelombang.

Tak ada gunung di sana pada pagi itu.

Yang terlihat hanya laut di antara Pulau Rakata, Sertung, dan Panjang. Tiga pulau itu adalah bagian yang tersisa setelah Krakatau meledak hebat pada 1883. Danan dan Perbuwatan hancur. Sebagian Rakata ikut runtuh. Tempat yang sebelumnya diisi tubuh gunung berubah menjadi kaldera besar, lalu digenangi air laut.

Selat Sunda seperti sudah menutup lukanya.

Kapal-kapal kembali melintas. Kehidupan tumbuh lagi di pulau-pulau yang tersisa. Empat puluh tahun lebih telah berlalu. Bagi manusia, itu waktu yang cukup panjang untuk mengira bahwa bencana telah selesai.

Ternyata tidak.

Pada 29 Desember 1927, air laut menyembur dari tengah kompleks Krakatau. Semburan itu datang dari bawah, menyerupai air mancur besar. Bersamanya keluar asap dan material vulkanik.

Gunung baru sedang mencari jalan ke permukaan.

Prosesnya tidak langsung menghasilkan pulau. Letusan bawah laut menyemburkan material, tetapi ombak menghantam dan menyeretnya kembali. Gundukan kecil bisa muncul hari ini, kemudian lenyap beberapa waktu setelahnya.

Laut belum mau menyerah.

Begitu pula gunung yang sedang lahir itu.

Letusan berlangsung berulang-ulang. Material dari dasar laut terus dimuntahkan, sedikit demi sedikit, seolah ada tangan besar yang sedang menimbun satu titik di tengah Selat Sunda.

Ahli gunung api mencatat perubahan tersebut dengan saksama. Menurut penelitian yang diterbitkan Badan Geologi Kementerian ESDM, semburan bawah laut berlangsung hingga Januari 1929.

Pada 20 Januari 1929, pemandangannya mulai berbeda.

Di samping tiang asap, terlihat tumpukan material yang sudah muncul di atas permukaan air. Bentuknya belum seperti gunung. Hanya pulau kecil, hitam, panas, dan nyaris tanpa kehidupan.

Tetapi pulau itu bertahan.

Hari itulah yang kemudian dicatat sebagai kelahiran Gunung Anak Krakatau.

Ia lahir di tempat induknya pernah berdiri. Dari dasar laut sedalam sekitar 180 meter, material vulkanik menumpuk sampai akhirnya mencapai permukaan.

Orang kemudian memberinya nama yang sederhana: Anak Krakatau.

Nama itu terdengar seperti nama seorang bayi. Padahal kelahirannya disertai ledakan, asap, dan semburan air laut. Tempat tidurnya adalah kaldera. Suara pertamanya adalah letusan.

Usianya masih sangat muda jika dibandingkan dengan gunung-gunung lain di Indonesia. Bahkan ada orang yang lahir sebelum pulau itu muncul dan hidup cukup lama untuk menyaksikannya tumbuh menjadi gunung.

Anak Krakatau juga tumbuh dengan cara yang berbeda.

Setiap letusan membawa tambahan material. Pasir, abu, batuan pijar, dan lava menumpuk di permukaannya. Ketika lava membeku, tubuh pulau menjadi lebih kuat. Ombak tetap mengikis bagian tepinya, tetapi material baru terus datang dari perut bumi.

Kadang gunung itu menang. Kadang laut mengambil kembali bagiannya.

Pertarungan itu berlangsung bertahun-tahun.

Dari pulau kecil yang mudah terkikis, Anak Krakatau perlahan membentuk kerucut. Tubuhnya tersusun dari lapisan lava dan endapan hasil letusan. Satu lapisan menutup lapisan sebelumnya.

Penelitian Badan Geologi memperkirakan gunung tersebut tumbuh rata-rata sekitar empat meter setiap tahun. Pada 2000, tingginya telah mencapai sekitar 315 meter di atas permukaan laut. Volume tubuhnya diperkirakan mencapai 5,52 kilometer kubik.

Ia tumbuh cepat karena sering meletus.

Di sinilah Anak Krakatau menghadirkan kenyataan yang agak ganjil. Letusan yang ditakuti manusia justru menjadi cara gunung itu membesarkan dirinya. Tanpa letusan, tidak akan ada tambahan material. Tanpa material baru, tubuhnya tidak akan meninggi.

Namun, kehidupan ternyata tetap berani datang.

Ketika sebagian permukaan pulau mulai mendingin, tumbuhan perintis menemukan tempat untuk hidup. Gelagah muncul. Cemara laut tumbuh di lereng timur. Di sekitar pantai, tumbuhan menjalar mulai menutup sebagian pasir.

Burung dan serangga menyusul.

Mereka hidup di sebuah pulau yang tanahnya belum mapan dan sewaktu-waktu dapat kembali ditimbun abu. Setiap kali vegetasi mulai rimbun, letusan bisa datang dan memaksa kehidupan memulai lagi dari awal.

Badan Geologi mencatat suksesi tumbuhan di Anak Krakatau tidak pernah benar-benar mencapai tahap akhir. Erupsi terlalu sering mengganggunya.

Aneh memang. Gunung itu membangun kehidupan sekaligus menghancurkannya.

Begitulah Anak Krakatau tumbuh.

Tidak ada penduduk yang menetap di pulaunya. Tetapi kehidupannya selalu berhubungan dengan manusia. Nelayan melintas di perairan sekitarnya. Kapal menyeberangi Selat Sunda. Di kejauhan, pesisir Banten dan Lampung terus berkembang dan semakin padat.

Para ahli juga datang silih berganti. Mereka mengukur tinggi gunung, mengambil contoh batuan, mencatat gempa, mengamati asap, dan mempelajari komposisi material yang dikeluarkan.

Perhatian itu bukan tanpa alasan.

Anak Krakatau lahir dari sistem vulkanik yang pernah menghasilkan kehancuran besar. Namun, ia tidak bisa serta-merta dianggap akan mengulangi apa yang dilakukan induknya. Setiap erupsi memiliki karakter, proses, dan kekuatannya sendiri.

Yang pasti, gunung muda itu sangat aktif.

Masa istirahatnya berkisar antara satu hingga delapan tahun. Dalam beberapa periode, letusan terjadi berulang kali dalam setahun. Tubuhnya terus berubah. Kawahnya bergeser. Lerengnya bertambah tinggi, lalu terpotong lagi oleh letusan.

Anak Krakatau seperti tidak pernah benar-benar selesai dibentuk.

Dari pesisir Banten dan Lampung, gunung itu terlihat kecil di tengah laut. Tetapi di bawah permukaan, tubuhnya berdiri dari dasar kaldera. Bagian yang terlihat hanyalah pucuk dari bangunan vulkanik yang jauh lebih besar.

Kelahiran Anak Krakatau pada 1929 bukanlah akhir dari cerita Krakatau.

Justru di situlah cerita baru dimulai.

Setelah berhasil keluar dari laut, gunung muda itu memasuki masa pertumbuhan yang gaduh. Letusan datang berkali-kali. Ada masa ketika ia meletus hampir setiap hari. Bahkan, dalam satu periode, ledakannya terjadi nyaris setiap 15 menit.

Gunung yang semula hanya sebidang tanah hitam itu mulai memperlihatkan wataknya.

Bersambung: Bagian 2, Gunung Muda yang Tak Pernah Diam

Alur Baca Berita Menampilkan Semua Halaman (5 Bagian)
Mode Halaman
Sebelumnya
1 2 3 4 5
Selanjutnya

Bagaimana menurut Anda tentang liputan ini?

Beri reaksi pembaca untuk mengapresiasi karya jurnalistik ini:
ARTIKEL SEBELUMNYA Bappenas: Transformasi Hijau Harus Jadi Aksi Nyata, 5,3 Juta Pekerja Dibutuhkan pada 2029 ARTIKEL BERIKUTNYA Gunung Muda yang Tak Pernah Diam
Diskusi & Komentar Pembaca (0)

Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi

Tanggapan akan disaring dan diverifikasi redaksi terlebih dahulu sebelum terbit.
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Berita Terkait Lainnya

Lihat Semua di Rubrik JELAJAH BUMI
34 menit yang lalu
54 menit yang lalu
1 jam yang lalu