TERKINI
SERIAL GUNUNG ANAK KRAKATAU (BAGIAN 1)

Ketika Laut Melahirkan Gunung

Ketika Laut Melahirkan Gunung
JELAJAH BUMI
Dokumentasi resmi BNPB/PVMBG
Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda

Begitulah Anak Krakatau tumbuh.

Tidak ada penduduk yang menetap di pulaunya. Tetapi kehidupannya selalu berhubungan dengan manusia. Nelayan melintas di perairan sekitarnya. Kapal menyeberangi Selat Sunda. Di kejauhan, pesisir Banten dan Lampung terus berkembang dan semakin padat.

Para ahli juga datang silih berganti. Mereka mengukur tinggi gunung, mengambil contoh batuan, mencatat gempa, mengamati asap, dan mempelajari komposisi material yang dikeluarkan.

Perhatian itu bukan tanpa alasan.

Anak Krakatau lahir dari sistem vulkanik yang pernah menghasilkan kehancuran besar. Namun, ia tidak bisa serta-merta dianggap akan mengulangi apa yang dilakukan induknya. Setiap erupsi memiliki karakter, proses, dan kekuatannya sendiri.

Yang pasti, gunung muda itu sangat aktif.

Masa istirahatnya berkisar antara satu hingga delapan tahun. Dalam beberapa periode, letusan terjadi berulang kali dalam setahun. Tubuhnya terus berubah. Kawahnya bergeser. Lerengnya bertambah tinggi, lalu terpotong lagi oleh letusan.

Anak Krakatau seperti tidak pernah benar-benar selesai dibentuk.

Dari pesisir Banten dan Lampung, gunung itu terlihat kecil di tengah laut. Tetapi di bawah permukaan, tubuhnya berdiri dari dasar kaldera. Bagian yang terlihat hanyalah pucuk dari bangunan vulkanik yang jauh lebih besar.

Kelahiran Anak Krakatau pada 1929 bukanlah akhir dari cerita Krakatau.

Justru di situlah cerita baru dimulai.

Setelah berhasil keluar dari laut, gunung muda itu memasuki masa pertumbuhan yang gaduh. Letusan datang berkali-kali. Ada masa ketika ia meletus hampir setiap hari. Bahkan, dalam satu periode, ledakannya terjadi nyaris setiap 15 menit.

Alur Baca Berita Halaman 4 dari 5
Lihat Semua Halaman
Sebelumnya
1 2 3 4 5
Selanjutnya

Bagaimana menurut Anda tentang liputan ini?

Beri reaksi pembaca untuk mengapresiasi karya jurnalistik ini:
ARTIKEL SEBELUMNYA Bappenas: Transformasi Hijau Harus Jadi Aksi Nyata, 5,3 Juta Pekerja Dibutuhkan pada 2029 ARTIKEL BERIKUTNYA Gunung Muda yang Tak Pernah Diam
Diskusi & Komentar Pembaca (5)

Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi

Tanggapan akan disaring dan diverifikasi redaksi terlebih dahulu sebelum terbit.
Shila syakila 1 bulan yang lalu

Pastinya gunung itu besar sekali jika di lihat dari bawah laut

Shila syakila 1 bulan yang lalu

laut itu selalu menyimpan hal tersembunyi

Shila syakila 1 bulan yang lalu

saya jadi tertarik untuk meneliti gunung anak Krakatau itu

Cucu budiyani 1 bulan yang lalu

Sangat memberi imformasi

arie 1 bulan yang lalu

generasi yg hidup saat ini hanya melihat ini sebagai sejarah,dan pd akhirnya ikut merasakan bagaimana guncangan gempa,hujan debu vulkanik yg materialnya menyerupai serpihan kaca.sangat berbahaya utk paru2 dan pernapasan.Berharap kondisi saat ini akan mengurangi kemarahan si anak yg sholeh,bageur d kemudian hari.

Berita Terkait Lainnya

Lihat Semua di Rubrik JELAJAH BUMI
1 bulan yang lalu
1 bulan yang lalu
1 bulan yang lalu