Ketika Laut Melahirkan Gunung
Begitulah Anak Krakatau tumbuh.
Tidak ada penduduk yang menetap di pulaunya. Tetapi kehidupannya selalu berhubungan dengan manusia. Nelayan melintas di perairan sekitarnya. Kapal menyeberangi Selat Sunda. Di kejauhan, pesisir Banten dan Lampung terus berkembang dan semakin padat.
Para ahli juga datang silih berganti. Mereka mengukur tinggi gunung, mengambil contoh batuan, mencatat gempa, mengamati asap, dan mempelajari komposisi material yang dikeluarkan.
Perhatian itu bukan tanpa alasan.
Anak Krakatau lahir dari sistem vulkanik yang pernah menghasilkan kehancuran besar. Namun, ia tidak bisa serta-merta dianggap akan mengulangi apa yang dilakukan induknya. Setiap erupsi memiliki karakter, proses, dan kekuatannya sendiri.
Yang pasti, gunung muda itu sangat aktif.
Masa istirahatnya berkisar antara satu hingga delapan tahun. Dalam beberapa periode, letusan terjadi berulang kali dalam setahun. Tubuhnya terus berubah. Kawahnya bergeser. Lerengnya bertambah tinggi, lalu terpotong lagi oleh letusan.
Anak Krakatau seperti tidak pernah benar-benar selesai dibentuk.
Dari pesisir Banten dan Lampung, gunung itu terlihat kecil di tengah laut. Tetapi di bawah permukaan, tubuhnya berdiri dari dasar kaldera. Bagian yang terlihat hanyalah pucuk dari bangunan vulkanik yang jauh lebih besar.
Kelahiran Anak Krakatau pada 1929 bukanlah akhir dari cerita Krakatau.
Justru di situlah cerita baru dimulai.
Setelah berhasil keluar dari laut, gunung muda itu memasuki masa pertumbuhan yang gaduh. Letusan datang berkali-kali. Ada masa ketika ia meletus hampir setiap hari. Bahkan, dalam satu periode, ledakannya terjadi nyaris setiap 15 menit.
Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi