Ketika Laut Melahirkan Gunung
Pertarungan itu berlangsung bertahun-tahun.
Dari pulau kecil yang mudah terkikis, Anak Krakatau perlahan membentuk kerucut. Tubuhnya tersusun dari lapisan lava dan endapan hasil letusan. Satu lapisan menutup lapisan sebelumnya.
Penelitian Badan Geologi memperkirakan gunung tersebut tumbuh rata-rata sekitar empat meter setiap tahun. Pada 2000, tingginya telah mencapai sekitar 315 meter di atas permukaan laut. Volume tubuhnya diperkirakan mencapai 5,52 kilometer kubik.
Ia tumbuh cepat karena sering meletus.
Di sinilah Anak Krakatau menghadirkan kenyataan yang agak ganjil. Letusan yang ditakuti manusia justru menjadi cara gunung itu membesarkan dirinya. Tanpa letusan, tidak akan ada tambahan material. Tanpa material baru, tubuhnya tidak akan meninggi.
Namun, kehidupan ternyata tetap berani datang.
Ketika sebagian permukaan pulau mulai mendingin, tumbuhan perintis menemukan tempat untuk hidup. Gelagah muncul. Cemara laut tumbuh di lereng timur. Di sekitar pantai, tumbuhan menjalar mulai menutup sebagian pasir.
Burung dan serangga menyusul.
Mereka hidup di sebuah pulau yang tanahnya belum mapan dan sewaktu-waktu dapat kembali ditimbun abu. Setiap kali vegetasi mulai rimbun, letusan bisa datang dan memaksa kehidupan memulai lagi dari awal.
Badan Geologi mencatat suksesi tumbuhan di Anak Krakatau tidak pernah benar-benar mencapai tahap akhir. Erupsi terlalu sering mengganggunya.
Aneh memang. Gunung itu membangun kehidupan sekaligus menghancurkannya.
Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi