TERKINI

Ongkos Menunggu Hujan

Ongkos Menunggu Hujan
INSIGHT
Dok. Redaksi GARIS BUMI
Foto liputan: Ongkos Menunggu Hujan

GARISBUMI.com – Oktober sudah berjalan, tetapi kabar tentang hujan malah meminta kita menunggu lebih lama.

Mendengar prakiraan musim hujan akan mundur, saya meminta Rajudin, wartawan Radar Banten yang biasa dipanggil Raju, menghubungi petani di utara Kabupaten Serang. Tepatnya di Kecamatan Pontang. Raju orang Pontang dan mengenal banyak petani di sana. Saya ingin tahu, kabar dari BMKG itu seperti apa bunyinya ketika sampai di sawah.

Dari Pahid Hadi, petani di Kampung Linduk, jawabannya sederhana: modal bertambah.

Air irigasi menipis. Agar padi tetap mendapat air, mesin pompa diesel harus bekerja. Mesin tidak cukup diberi harapan agar hujan segera turun. Ia perlu bahan bakar.

“Bertani di musim kemarau jelas menambah ongkos modal, karena kami harus memompa air menggunakan mesin disel agar lahan padi teraliri dengan baik,” kata Pahid, Minggu (11/10/2026).

Petani berusia 36 tahun itu pernah mengalami panen kurang maksimal pada kemarau sebelumnya. Air terbatas, hama ikut menyerang. Sudah mengeluarkan lebih banyak uang, hasilnya belum tentu lebih banyak.

Di sawah, bekerja lebih keras kadang hanya cukup untuk menjaga agar kerugian tidak terlalu besar.

Tak jauh dari sana, di Kampung Panecekan, Desa Kubang Puji, Aryanto menghadapi urusan serupa. Tanah sawah retak-retak. Sebagian petani memilih membiarkan lahannya bera. Bisa dimengerti. Menanam perlu modal, sementara air belum jelas datang dari mana.

Aryanto, 34 tahun, diberi tanggung jawab mengurus pengairan sekitar 50 hektare lahan milik warga. Airnya diambil dari Sungai Ciwaka, diangkat dengan pompa, lalu dialirkan melalui pipa dan selang.

Saat ini, semangka di lahan sekitar lima hektare sedang dipanen. Sisanya diperuntukkan bagi padi dan sedang memasuki tahap pengolahan lahan serta penanaman. Ada hasil yang mulai dipetik, ada tanaman yang baru diusahakan. Keduanya membutuhkan air.

Untuk menggerakkan empat mesin diesel, setiap hari diperlukan sekitar 100 liter solar.

Saya berhenti sebentar pada angka itu. Seratus liter sehari. Kalau kebutuhan tersebut berlangsung sebulan, jumlahnya sekitar 3.000 liter. Itu baru bahan bakar untuk mengalirkan air, belum urusan benih, pupuk, dan pekerjaan lainnya. Kalender berganti. Mesin tetap harus diisi.

Sejak subuh, pompa sudah menderu. Ketika pipa hisap tersumbat lumpur dan sampah, Aryanto turun ke sungai untuk membersihkannya. Untuk mengalirkan air saja, pekerjaannya sudah sebanyak itu.

Mudah bagi kita menyebut Aryanto petani tangguh. Namun, setelah mendengar kebutuhan solarnya, kata tangguh terasa punya tagihan juga.

Pada Minggu, 11 Oktober, pihak BMKG Wilayah II menjelaskan musim hujan di Banten diprakirakan mulai datang pada November. Bagian paling utara Serang dan Tangerang bisa menunggu sampai akhir Desember. El Niño ikut memperpanjang periode kering.

Bagi orang yang sumber airnya masih lancar, mundur satu atau dua bulan mungkin cukup ditanggapi dengan keluhan soal panas. Di sawah, tambahan waktu itu harus dihitung dalam bahan bakar, tenaga, dan modal.

Petani tentu berharap hasil panennya nanti cukup untuk menutup semua pengeluaran. Tetapi biaya keluar setiap hari, sedangkan hasil harus ditunggu. Selama menunggu, tanaman tetap perlu minum.

BMKG sudah menyampaikan prakiraan kepada pemerintah provinsi. Pertemuan dengan pemerintah daerah dan BPBD juga sudah dilakukan untuk membahas antisipasi. Informasi itu penting. Petani perlu tahu kapan sebaiknya menanam dan berapa lama harus bersiap menghadapi kekurangan air.

Lalu, bagaimana kabar dari ruang pertemuan itu sampai ke saluran irigasi?

Saluran mana yang perlu segera dibenahi? Dukungan apa yang bisa membantu warga menanggung pengairan selama hujan belum datang? Pahid dan Aryanto tentu lebih tahu kebutuhan di tempat mereka. Mendengarkan keduanya bisa menjadi awal yang berguna.

Kita menginginkan beras tersedia dan harganya terjangkau. Setiap rumah memerlukannya. Di belakang harapan itu, ada petani yang sedang menambah modal agar padi bisa tumbuh. Ada pula mesin yang harus terus diisi supaya air sampai ke lahan warga.

Hujan belum datang. Pengeluaran sudah. Pahid masih perlu menambah modal. Aryanto masih harus mengisi pompa. Mudah-mudahan, kabar berikutnya yang sampai kepada mereka bukan hanya tanggal perkiraan hujan.

Alur Baca Berita Menampilkan Semua Halaman (3 Bagian)
Mode Halaman
Sebelumnya
1 2 3
Selanjutnya

Bagaimana menurut Anda tentang liputan ini?

Beri reaksi pembaca untuk mengapresiasi karya jurnalistik ini:
MA
Mashudi Reporter Terverifikasi

Berfokus pada penyajian informasi mendalam, investigasi, dan jurnalisme berimbang bagi publik.

ARTIKEL SEBELUMNYA Setelah Truk Sampah Pergi
EDISI TERBARU Naskah terbaru lainnya sedang dalam kurasi redaktur.
Diskusi & Komentar Pembaca (0)

Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi

Tanggapan akan disaring dan diverifikasi redaksi terlebih dahulu sebelum terbit.
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Berita Terkait Lainnya

Lihat Semua di Rubrik INSIGHT
5 hari yang lalu
2 minggu yang lalu
1 jam yang lalu