Malam Ketika Selat Sunda Mengirim Gelombang
Tidak ada gempa kuat yang dirasakan. Tidak ada waktu panjang untuk memahami apa yang sedang terjadi. Pada malam 22 Desember 2018, air laut mendadak masuk ke permukiman dan kawasan wisata di pesisir Banten dan Lampung.
Sabtu malam itu seharusnya menjadi awal libur akhir tahun.
Kawasan wisata di sepanjang pesisir Pandeglang sedang ramai. Hotel dan penginapan menerima tamu. Warga menjalankan kegiatan seperti biasa. Di seberang laut, Anak Krakatau masih meletus.
Aktivitas gunung tersebut bukan pemandangan baru. Sejak Juni 2018, letusannya telah berlangsung berulang kali. Statusnya masih Level II atau Waspada.
Namun, pukul 20.56 WIB, sesuatu yang berbeda terjadi.
Erupsi memicu longsoran pada lereng Anak Krakatau. Sekitar 64 hektare bagian tubuh gunung runtuh ke laut. Masuknya material dalam jumlah besar secara tiba-tiba mendorong air dan membentuk gelombang menuju pesisir di kedua sisi Selat Sunda.
Tujuh menit kemudian, pukul 21.03 WIB, sensor seismograf BMKG di Cigeulis, Pandeglang, merekam getaran. Sinyalnya tidak seperti gempa bumi tektonik sehingga sistem otomatis tidak mengenalinya sebagai gempa pemicu tsunami.
Di pesisir, masyarakat juga tidak merasakan guncangan kuat yang biasanya menjadi tanda untuk segera menjauh dari pantai.
Gelombang datang tanpa tanda yang mereka kenali.
Pukul 21.27 WIB, alat pengukur muka air laut di Pantai Jambu, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, mencatat kenaikan air sekitar 90 sentimeter. Enam menit kemudian, perubahan muka air tercatat di Pelabuhan Ciwandan. Setelah itu, gelombang terdeteksi di Kota Agung dan Pelabuhan Panjang, Lampung.
Di sejumlah lokasi, ketinggian gelombang yang menerjang daratan jauh lebih besar karena dipengaruhi bentuk pantai dan kondisi permukaan wilayah.
Permukiman, hotel, warung, kendaraan, dan perahu tersapu. Malam yang sebelumnya dipenuhi kegiatan warga berubah menjadi kepanikan. Orang-orang berlari mencari tempat tinggi tanpa mengetahui apakah gelombang berikutnya akan datang.
Pukul 21.30 WIB, petugas BMKG mulai menerima laporan tentang air laut yang naik tidak normal di pesisir Banten dan Lampung. Mereka memeriksa data tide gauge milik Badan Informasi Geospasial.
Data itu memastikan sesuatu yang semula sulit dipercaya: tsunami telah terjadi meskipun tidak ada gempa bumi tektonik.
Pukul 22.30 WIB, BMKG mengumumkan bahwa gelombang yang menerjang Banten dan Lampung merupakan tsunami. Penyebabnya kemudian dipastikan berkaitan dengan aktivitas vulkanik dan runtuhnya sebagian tubuh Anak Krakatau.
Bencana itu melanda wilayah pesisir Kabupaten Pandeglang, Serang, Lampung Selatan, Tanggamus, dan Pesawaran. Pandeglang mengalami dampak paling berat.
Data akhir yang dicatat BNPB menyebutkan 437 orang meninggal dunia dan 1.495 orang terluka. Rumah, penginapan, tempat usaha, dan ratusan perahu mengalami kerusakan.
Di balik angka tersebut terdapat keluarga yang kehilangan anggota keluarganya, nelayan yang kehilangan perahu, pekerja yang kehilangan tempat mencari nafkah, dan warga yang tidak lagi merasa aman tinggal di dekat pantai.
Anak Krakatau juga berubah drastis.
Sebelum peristiwa itu, puncaknya mencapai sekitar 338 meter di atas permukaan laut. Setelah sebagian tubuhnya runtuh, ketinggiannya tersisa sekitar 110 meter. Kerucut yang dibangun selama puluhan tahun kehilangan sebagian besar bentuknya hanya dalam satu malam.
Peristiwa tersebut membuka kelemahan lain dalam kesiapsiagaan bencana. Sistem peringatan dini tsunami ketika itu dirancang terutama untuk mendeteksi tsunami akibat gempa tektonik. Tsunami yang dipicu aktivitas vulkanik dan longsoran tidak dapat diproses secara otomatis dengan cara yang sama.
Malam 22 Desember 2018 akhirnya meninggalkan dua luka sekaligus. Luka pada masyarakat di pesisir Selat Sunda dan luka besar pada tubuh gunung yang menjadi penyebabnya.
Namun, Anak Krakatau tidak berhenti.
Di balik bagian tubuhnya yang runtuh, aktivitas vulkanik masih berlangsung. Material baru kembali dimuntahkan. Gunung yang kehilangan ketinggiannya itu perlahan mulai membangun tubuh baru. (red)
Bersambung..-------
Sumber resmi:
BMKG, Kronologi Tsunami Selat Sunda
BNPB, Hutan Pantai Dapat Kurangi Risiko Tsunami
Kementerian ESDM, Perkembangan Aktivitas Anak Krakatau
Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi