Malam Ketika Selat Sunda Mengirim Gelombang
Gelombang datang tanpa tanda yang mereka kenali.
Pukul 21.27 WIB, alat pengukur muka air laut di Pantai Jambu, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, mencatat kenaikan air sekitar 90 sentimeter. Enam menit kemudian, perubahan muka air tercatat di Pelabuhan Ciwandan. Setelah itu, gelombang terdeteksi di Kota Agung dan Pelabuhan Panjang, Lampung.
Di sejumlah lokasi, ketinggian gelombang yang menerjang daratan jauh lebih besar karena dipengaruhi bentuk pantai dan kondisi permukaan wilayah.
Permukiman, hotel, warung, kendaraan, dan perahu tersapu. Malam yang sebelumnya dipenuhi kegiatan warga berubah menjadi kepanikan. Orang-orang berlari mencari tempat tinggi tanpa mengetahui apakah gelombang berikutnya akan datang.
Pukul 21.30 WIB, petugas BMKG mulai menerima laporan tentang air laut yang naik tidak normal di pesisir Banten dan Lampung. Mereka memeriksa data tide gauge milik Badan Informasi Geospasial.
Data itu memastikan sesuatu yang semula sulit dipercaya: tsunami telah terjadi meskipun tidak ada gempa bumi tektonik.
Pukul 22.30 WIB, BMKG mengumumkan bahwa gelombang yang menerjang Banten dan Lampung merupakan tsunami. Penyebabnya kemudian dipastikan berkaitan dengan aktivitas vulkanik dan runtuhnya sebagian tubuh Anak Krakatau.
Bencana itu melanda wilayah pesisir Kabupaten Pandeglang, Serang, Lampung Selatan, Tanggamus, dan Pesawaran. Pandeglang mengalami dampak paling berat.
Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi