Malam Ketika Selat Sunda Mengirim Gelombang
Data akhir yang dicatat BNPB menyebutkan 437 orang meninggal dunia dan 1.495 orang terluka. Rumah, penginapan, tempat usaha, dan ratusan perahu mengalami kerusakan.
Di balik angka tersebut terdapat keluarga yang kehilangan anggota keluarganya, nelayan yang kehilangan perahu, pekerja yang kehilangan tempat mencari nafkah, dan warga yang tidak lagi merasa aman tinggal di dekat pantai.
Anak Krakatau juga berubah drastis.
Sebelum peristiwa itu, puncaknya mencapai sekitar 338 meter di atas permukaan laut. Setelah sebagian tubuhnya runtuh, ketinggiannya tersisa sekitar 110 meter. Kerucut yang dibangun selama puluhan tahun kehilangan sebagian besar bentuknya hanya dalam satu malam.
Peristiwa tersebut membuka kelemahan lain dalam kesiapsiagaan bencana. Sistem peringatan dini tsunami ketika itu dirancang terutama untuk mendeteksi tsunami akibat gempa tektonik. Tsunami yang dipicu aktivitas vulkanik dan longsoran tidak dapat diproses secara otomatis dengan cara yang sama.
Malam 22 Desember 2018 akhirnya meninggalkan dua luka sekaligus. Luka pada masyarakat di pesisir Selat Sunda dan luka besar pada tubuh gunung yang menjadi penyebabnya.
Namun, Anak Krakatau tidak berhenti.
Di balik bagian tubuhnya yang runtuh, aktivitas vulkanik masih berlangsung. Material baru kembali dimuntahkan. Gunung yang kehilangan ketinggiannya itu perlahan mulai membangun tubuh baru. (red)
Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi