Dentuman yang Kembali Menyeberangi Selat
Hampir delapan tahun setelah tsunami 2018, Anak Krakatau kembali mengirim suara gemuruh ke daratan. Erupsi berlangsung sekitar 25 jam. Abu mengganggu penerbangan, tetapi kali ini masyarakat menghadapi gunung itu dengan pemantauan yang lebih kuat.
Malam telah larut ketika alat pemantau di Anak Krakatau mulai merekam getaran yang tak kunjung putus.
Jumat, 4 September 2026, pukul 23.07 WIB.
Dari kawah di tengah Selat Sunda, material vulkanik terus keluar. Lava berpijar seperti air mancur merah pada malam hari. Asap hitam terlihat membubung ketika matahari muncul.
Lalu dentuman terdengar.
Suara gemuruh dari gunung menyeberangi laut dan sampai ke daratan. Di Pos Pengamatan Gunung Api Pasauran, petugas mendengarnya berulang kali. Getaran juga dirasakan di sejumlah wilayah yang jauh dari kawah.
Bagi masyarakat pesisir Banten dan Lampung, suara dari Anak Krakatau tidak pernah terdengar biasa sejak 2018.
Pertanyaan yang sama segera muncul: apakah akan terjadi tsunami?
PVMBG meminta masyarakat tetap tenang. Hasil evaluasi menunjukkan tubuh Anak Krakatau yang terbentuk kembali setelah keruntuhan 2018 masih relatif kecil. Aktivitas kali ini tidak dinilai berpotensi menyebabkan runtuhan besar yang dapat memicu tsunami.
Namun, bahaya lain tetap ada.
Erupsi menerus berlangsung sekitar 25 jam. Seismograf mencatat getaran dari Jumat malam hingga Minggu, 6 September 2026, pukul 00.04 WIB.
Setelah episode panjang itu berhenti, gunung kembali meletus pada pukul 03.53 WIB. Letusan bertipe strombolian tersebut berlangsung sekitar 30 detik. PVMBG menafsirkannya sebagai penanda akhir dari rangkaian erupsi menerus sebelumnya.
Gunung memang mulai mereda, tetapi belum tenang.
Energi vulkanik yang sempat meningkat pada 5 September menunjukkan penurunan sehari kemudian. Di dalam tubuh gunung, tekanan masih terdeteksi. Potensi letusan susulan, lontaran batu pijar, hujan abu lebat, dan aliran lava tetap harus diwaspadai.
Status Anak Krakatau bertahan pada Level III atau Siaga. Masyarakat, wisatawan, nelayan, dan pendaki dilarang beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat kegiatan gunung.
Kali ini, dampaknya tidak hanya dirasakan di sekitar pantai.
Abu vulkanik bergerak mengikuti angin dan memasuki ruang udara yang digunakan pesawat. Empat bandara ditutup sementara sebagai langkah keselamatan, yakni Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II Lampung, dan Budiarto Curug.
Perjalanan tertunda. Penumpang menunggu kepastian. Di pesisir, petugas membagikan masker dan memantau pergerakan abu. Warga diminta menutup sumber air serta makanan agar tidak terkontaminasi.
Anak Krakatau kembali memengaruhi kehidupan jauh melampaui pulaunya yang tidak berpenghuni.
Namun, ada perbedaan besar dibandingkan malam tsunami 2018.
Kini, aktivitas gunung diamati melalui kamera, seismograf, satelit, tiltmeter, dan pengukuran energi secara waktu nyata. Pos Pasauran dan Hargo Pancuran terus mengirimkan data. Informasi disebarkan melalui PVMBG, Badan Geologi, BNPB, BPBD, dan MAGMA Indonesia.
Laut di sekelilingnya juga diawasi.
Pemantauan tidak dapat menghentikan erupsi. Tetapi data dapat membantu manusia memahami apa yang sedang terjadi, menentukan wilayah berbahaya, dan membedakan ancaman nyata dari kabar yang menimbulkan kepanikan.
Anak Krakatau kini hampir berusia satu abad.
Ia memulai hidupnya sebagai semburan dari dasar laut pada 1927. Dua tahun kemudian, tubuhnya muncul ke permukaan. Gunung itu tumbuh melalui letusan, mencapai ratusan meter, lalu kehilangan sebagian besar tubuhnya dalam keruntuhan 2018.
Setelah runtuh, ia tumbuh kembali.
Erupsi September 2026 memperlihatkan bahwa proses tersebut belum berhenti. Anak Krakatau masih membangun dirinya di tempat yang sama, di antara pesisir Banten dan Lampung, di jalur laut yang sibuk, di tengah kehidupan jutaan manusia.
Gunung itu tidak meminta manusia untuk hidup dalam ketakutan.
Ia hanya mengingatkan bahwa Selat Sunda adalah ruang hidup bersama. Ada manusia, laut, pulau, dan gunung api yang terus bergerak.
Manusia tidak dapat menyuruh Anak Krakatau berhenti tumbuh.
Yang dapat dilakukan adalah terus mengamatinya, memahami isyaratnya, dan tahu kapan harus menjauh.
TAMAT
---
Sumber resmi:
• Kementerian ESDM, Aktivitas Anak Krakatau Setelah Erupsi Menerus 25 Jam
• BNPB, Erupsi Menerus Anak Krakatau Disertai Dentuman
• BNPB, Aktivitas Anak Krakatau dan Penutupan Sementara Empat Bandara
Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi