Dentuman yang Kembali Menyeberangi Selat
Pertanyaan yang sama segera muncul: apakah akan terjadi tsunami?
PVMBG meminta masyarakat tetap tenang. Hasil evaluasi menunjukkan tubuh Anak Krakatau yang terbentuk kembali setelah keruntuhan 2018 masih relatif kecil. Aktivitas kali ini tidak dinilai berpotensi menyebabkan runtuhan besar yang dapat memicu tsunami.
Namun, bahaya lain tetap ada.
Erupsi menerus berlangsung sekitar 25 jam. Seismograf mencatat getaran dari Jumat malam hingga Minggu, 6 September 2026, pukul 00.04 WIB.
Setelah episode panjang itu berhenti, gunung kembali meletus pada pukul 03.53 WIB. Letusan bertipe strombolian tersebut berlangsung sekitar 30 detik. PVMBG menafsirkannya sebagai penanda akhir dari rangkaian erupsi menerus sebelumnya.
Gunung memang mulai mereda, tetapi belum tenang.
Energi vulkanik yang sempat meningkat pada 5 September menunjukkan penurunan sehari kemudian. Di dalam tubuh gunung, tekanan masih terdeteksi. Potensi letusan susulan, lontaran batu pijar, hujan abu lebat, dan aliran lava tetap harus diwaspadai.
Status Anak Krakatau bertahan pada Level III atau Siaga. Masyarakat, wisatawan, nelayan, dan pendaki dilarang beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat kegiatan gunung.
Kali ini, dampaknya tidak hanya dirasakan di sekitar pantai.
Abu vulkanik bergerak mengikuti angin dan memasuki ruang udara yang digunakan pesawat. Empat bandara ditutup sementara sebagai langkah keselamatan, yakni Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II Lampung, dan Budiarto Curug.
Perjalanan tertunda. Penumpang menunggu kepastian. Di pesisir, petugas membagikan masker dan memantau pergerakan abu. Warga diminta menutup sumber air serta makanan agar tidak terkontaminasi.
Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi