Dentuman yang Kembali Menyeberangi Selat
Anak Krakatau kembali memengaruhi kehidupan jauh melampaui pulaunya yang tidak berpenghuni.
Namun, ada perbedaan besar dibandingkan malam tsunami 2018.
Kini, aktivitas gunung diamati melalui kamera, seismograf, satelit, tiltmeter, dan pengukuran energi secara waktu nyata. Pos Pasauran dan Hargo Pancuran terus mengirimkan data. Informasi disebarkan melalui PVMBG, Badan Geologi, BNPB, BPBD, dan MAGMA Indonesia.
Laut di sekelilingnya juga diawasi.
Pemantauan tidak dapat menghentikan erupsi. Tetapi data dapat membantu manusia memahami apa yang sedang terjadi, menentukan wilayah berbahaya, dan membedakan ancaman nyata dari kabar yang menimbulkan kepanikan.
Anak Krakatau kini hampir berusia satu abad.
Ia memulai hidupnya sebagai semburan dari dasar laut pada 1927. Dua tahun kemudian, tubuhnya muncul ke permukaan. Gunung itu tumbuh melalui letusan, mencapai ratusan meter, lalu kehilangan sebagian besar tubuhnya dalam keruntuhan 2018.
Setelah runtuh, ia tumbuh kembali.
Erupsi September 2026 memperlihatkan bahwa proses tersebut belum berhenti. Anak Krakatau masih membangun dirinya di tempat yang sama, di antara pesisir Banten dan Lampung, di jalur laut yang sibuk, di tengah kehidupan jutaan manusia.
Gunung itu tidak meminta manusia untuk hidup dalam ketakutan.
Ia hanya mengingatkan bahwa Selat Sunda adalah ruang hidup bersama. Ada manusia, laut, pulau, dan gunung api yang terus bergerak.
Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi