457 Kebakaran dalam Dua Bulan, Jakarta Perkuat Siaga Kemarau
JAKARTA – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi puncak musim kemarau setelah mencatat 457 kejadian kebakaran sepanjang Juli hingga Agustus 2026. Sebanyak 1.027 personel lintas instansi dan 29 mobil tangki disiagakan untuk mengantisipasi kebakaran, kekeringan, kekurangan air bersih, serta penurunan kualitas udara.
Kesiapsiagaan itu melibatkan jajaran pemerintah daerah, TNI, Polri, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, PAM JAYA, Palang Merah Indonesia, relawan, serta mitra kebencanaan.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan ancaman kemarau perlu diantisipasi karena El Niño diperkirakan bertahan hingga awal 2027.
“Terlebih dengan kondisi El Niño yang diprediksi berlangsung hingga awal 2027. Dampaknya perlu diantisipasi, mulai dari kekeringan, kekurangan air bersih, kebakaran, hingga penurunan kualitas udara,” ujar Pramono saat memimpin Apel Jaga Jakarta Kesiapsiagaan Musim Kemarau 2026 di Lapangan Silang Monas Sisi Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (2/9).
Pemprov DKI memperkuat koordinasi lintas sektor dan pemantauan kawasan yang berpotensi terdampak kemarau. Kebutuhan warga juga dipetakan hingga tingkat kelurahan agar petugas dapat bergerak lebih cepat ketika menerima laporan.
Untuk mengantisipasi kekurangan air bersih, Badan Penanggulangan Bencana Daerah DKI Jakarta menyiapkan 29 mobil tangki dari 10 instansi dan lembaga. Mobil tersebut akan digunakan untuk mendistribusikan air ke wilayah yang membutuhkan.
Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Marulitua Sijabat meminta warga segera melapor melalui layanan darurat 112 apabila mengalami kekurangan air bersih. Warga tidak perlu menunggu hingga kondisinya semakin parah.
“Setelah laporan diterima, BPBD akan berkoordinasi dengan PAM JAYA untuk memfasilitasi distribusi air bersih ke lokasi yang membutuhkan,” kata Maruli.
Mekanisme pelaporan dan distribusi air tersebut telah disosialisasikan kepada jajaran pemerintah kota, kecamatan, dan kelurahan.
Selain persoalan air, kebakaran menjadi perhatian utama selama kemarau. Dari 457 kejadian yang tercatat sepanjang Juli hingga Agustus, sebanyak 240 kebakaran terjadi pada Agustus.
Gangguan listrik menjadi dugaan penyebab terbanyak dengan 169 kejadian. Sementara itu, sampah menjadi objek yang paling sering terbakar, yakni dalam 122 kejadian.
Pramono meminta jajarannya tidak menunggu sampai dampak kemarau berkembang menjadi keadaan darurat.
“Saya meminta jajaran untuk tidak menunggu masalah terjadi. Pastikan air bersih tersedia, cegah kebakaran, jaga kualitas udara dan kesehatan warga, serta pantau stok pangan,” tegasnya.
Ia juga meminta masyarakat menggunakan air secara bijak, mencegah munculnya sumber api, dan segera melaporkan potensi kebakaran. Pemeriksaan instalasi listrik dan ketersediaan alat pemadam api ringan di lingkungan permukiman perlu mendapat perhatian.
“Pengawasan terhadap titik rawan dan edukasi pencegahan harus diperkuat. Sedangkan untuk Alat Pemadam Api Ringan, saya meminta setiap RW memilikinya karena program ini sudah berjalan. Saya yakin sekarang setiap RW sudah memilikinya,” ujar Pramono.
BMKG memprediksi puncak musim kemarau 2026 berlangsung pada Agustus hingga September. Sebanyak 369 zona musim atau 48,84 persen wilayah daratan mengalami puncak kemarau pada Agustus, sedangkan 169 zona musim atau 25,41 persen mengalaminya pada September.
El Niño diperkirakan bertahan setidaknya hingga awal kuartal pertama 2027. Potensi Indian Ocean Dipole positif pada September hingga Desember 2026 juga dapat memperkuat kondisi kering di sejumlah wilayah.
Pemprov DKI meminta warga segera menghubungi layanan 112 apabila mengalami kekurangan air bersih atau menemukan keadaan darurat akibat kemarau. Warga yang melihat kebakaran membesar diminta tidak mengambil risiko dengan memadamkannya sendiri dan segera menghubungi petugas. (asp)
Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi